image1 image2 image3 image4 image5

HI I'M ADE PERMATA SURYA|NUTRITIONIST AND MBA HOLDER|BIG DREAMER WITH MORE ACTION|LET'S GIVE IMPACT AND CHANGE THE WORLD!








Apa Yang Membuat Kampung Inggris (Pare) 

Terasa Begitu Berbeda?



Sejak kecil para pelajar di Indonesia sudah diperkenalkan dengan bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris yang merupakan bahasa internasional dan merupakan bahasa “tuntutan” untuk dapat bertahan hidup di era globalisasi seperti saat ini. Ini terbukti dengan dijadikannya Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran inti di sekolah, baik Sekolah Dasar hingga jenjang pendidikan tertinggi yaitu di bangku perkuliahan. Tidak hanya itu, menurut Kementrian Pendidikan Nasional Indonesia jumlah sekolah RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar belajar di Indonesia sudah mencapai angka 1.110 sekolah, dimana dari jumlah tersebut, SD RSBI tercatat 195 sekolah, SMP RSBI 299 sekolah, SMA RSBI 321 sekolah, dan SMK RSBI sebanyak 295 sekolah. Ini menunjukkan tingginya antusias pemerintah dan para orang tua untuk dapat membekali anak-anak mereka pendidikan Bahasa Inggris sejak mereka kecil dengan harapan mereka tumbuh dan dapat berbicara Bahasa Inggris secara aktif layaknya native speaker meskipun baru-baru ini RSBI baru saja dihapuskan.
Namun sudah tepatkah metode dan cara belajar yang mereka dapatkan semenjak mereka kecil tersebut? Faktanya setiap murid dapat dengan mudah lulus mata pelajaran Bahasa Inggris  dengan nilai yang sangat baik di bangku sekolah, namun ketika diminta untuk berbicara  mereka akan mengatakan tidak bisa. Bukan sebatas tidak bisa saja, masalah ketidakpercayaan diri, tidak terbiasa, malu-malu, dan  takut salah menambah kompleksitas permasalahan pada diri pelajar sehingga enggan mempraktekkan luasnya ilmu Bahasa Inggris yang sudah mereka dapatkan sejak mereka kecil tersebut. Letak permasalahan utamanya adalah para pelajar Indonesia sejak kecil di didik terutama hanya terbatas untuk menghafal dan menganalisis saja, seperti aturan dalam menggunakan tenses, dan aturan grammarlainnya. Sehingga mereka menjadi sulit untuk berbicara secara mengalir, otomatis, tanpa berfikir, tanpa mentranslateterlebih dahulu, juga dengan lantang dan cepat karena mereka selalu khawatir menggunakan aturan “grammar” yang salah. Para pelajar hampir tidak diajarkan untuk terbiasa berbicara, terbiasa mendengar, dan  belajar untuk memahami dengan baik isi suatu percakapan berbahasa Inggris. Akibatnya banyak Pelajar yang men-judge bahwa Bahasa Inggris itu sulit dan dari perasaan sulit tersebutlah akhirnya banyak pelajar yang membenci dan tidak menyukai Bahasa Inggris. Hal tersebut jugalah yang terjadi pada diri saya sendiri.
Ternyata membutuhkan waktu 11 tahun lamanya sehingga saya benar-benar bisa mengatakan “Saya menyukai Bahasa Inggris” terhitung sejak pertama kali saya mengenal Bahasa Inggris.  Butuh 11 tahun lamanya juga untuk membuang pikiran bahwa Inggris itu sulit. Dan perubahan besar dalam hidup saya tersebut terjadi ketika saya memutuskan untuk belajar ke Kampung Inggris-Pare Kediri, dimana ketika saya sudah frustasi karena tidak ada lagi tempat kursus Bahasa Inggris di Jakarta yang cocok untuk saya, dan saya tidak juga merasakan perubahan sedikitpun pada diri saya.
Pare, jika mendengar namanya mungkin semua orang akan teringat dengan sayuran yang berasa pahit. Namun Pare yang ini berbeda, Kota ini tidak hanya menawarkan jasa kursus Bahasa Inggris, namun Pare dapat menyulap suasana belajar-mengajar yang nota ben nya membosankan menjadi suasana belajar-mengajar yang “manis.” Tidak seperti tempat kursus di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, di Kampung Inggris belajar akan terasa menyenangkan. Pare atau yang biasa disebut sebagai Kampung Inggris merupakan suatu kota kecil di Kabupaten Kediri, Jawa timur. Di Pare ini telah berdiri lebih dari 100 lembaga kursus Bahasa Inggris. Lalu apa yang membuat Kampung Inggris ini terasa begitu berbeda dengan Lembaga Kursus di kota-kota besar sehingga begitu banyak pelajar yang jauh-jauh datang dari Ibu kota bahkan dari pelosok negeri demi mendapatkan ilmu Bahasa Inggris di kampung ini? Jawabnya sangat mudah, yaitu metode.
metode belajar Pare memang berbeda. Di sini pelajar dituntut untuk mau berbicara Bahasa Inggris dan belajar untuk terbiasa mendengarkan Bahasa Inggris. Tidak hanya itu, pelajar pun dilatih untuk memahami makna percakapan dan menangkap pesan dengan baik. Jika dibandingkan dengan Jakarta, Para Pelajar hanya menggunakan Bahasa Inggris di kelas saat belajar dan sesampainya di rumah mereka akan menggunakan Bahasa Indonesia kembali, namun di Pare semua pelajar dituntut untuk berbicara Bahasa Inggris baik itu di kelas, di jalan (English area), hingga ketika mereka beristirahat dan pulang kembali ke asrama mereka. Hal ini berjalan sesuai dengan teori prinsip belajar mengajar yang baik dimana belajar bukan hanya mengenai apersepsi (menerima teori pelajaran) namun juga dituntut untuk menciptakan lingkungan (Community Oriented) yang menunjang agar ilmu yang telah diterima dapat dipergunakan secara nyata.  Pare juga memiliki konsep English Area yaitu area dimana pelajar wajib berbahasa Inggris dan terdapat hukuman bagi yang melanggar, biasanya berupa denda Rp500,-/kata dan juga konsep kelas study club yaitu suatu kelas dimana para pelajarlah yang aktif dan tutor hanya berfungsi sebagai fasilitator yang mengarahkan, dalam study club ini para pelajar bebas mengemukakan pendapat dan sharingmengenai pengetahuan yang tentu saja dalam Bahasa Inggris. Kedua konsep belajar ini telah mewakili prinsip belajar lainnya yaitu latihan (behavior modification), aktivitas (active learning), Individualitas (individualizing of learning) dan Kerjasama (group work of learning).
Apa yang membuat belajar Bahasa Inggris di Pare begitu “manis” dan menyenangkan? Jika Anda belajar di sini, Anda akan merasakan suasana belajar yang berbeda. Suasana Kampung Inggris masih sangat terasa suasana kampung atau pedesaan sesuai namanya, namun tak perlu khawatir,  meskipun terkesan kampung, Pare tidak kampungan dan tidak mengurangi kualitas dari pengajarannya itu sendiri. Di sini alamnya masih hijau, banyak persawahan, udara yang sejuk, keramah-tamahan masyarakat, dan suasana kekeluargaan yang kental saat belajar membuat pelajar tidak stress bahkan menikmati setiap detik pengalaman belajar mereka. Karena itu banyak juga yang menganggap belajar di Pare adalah bentuk liburan sekolah.  Hal ini sangat membantu para pelajar yang selalu merasa stress saat belajar Bahasa Inggris, mereka perlahan akan merubah anggapan bahwa belajar Bahasa Inggris memusingkan dan tidak menyenangkan, Karena itu tak terasa berlebihan jika selama saya belajar di sana sering  mendengar bahwa “Pare adalah tempat belajar dengan suasana lokal namun terbukti mampu melahirkan para pelajar yang sukses di kancah Internasional!”  Selain suasana desanya, Pare memiliki ciri khas lain yaitu dimana setiap tempat kursus memiliki motto atau jargon mereka masing-masing. Meskipun sebatas jargon, namun ternyata dapat berdampak besar, itulah cara Pare mengubah mindsetsetiap muridnya dan mindset tersebut ditanamkan setiap kali kegiatan belajar akan dimulai, dan para murid biasanya akan meneriakkan dengan lantang sehingga termotivasi untuk terus belajar. Beberapa contoh Jargon diantaranya “Speak English: Yes we can!” “Speak English: Piece of cake, we can do it!” dan lain sebagainya. Sungguh rangkaian kata yang simple namun memiliki makna mendalam dan tujuan yang amat besar.
Memasuki bulan-bulan liburan sekolah seperti bulan Juni dan Juli, biasanya tempat kursus di Pare akan mengadakan lomba atau kompetisi. Lomba ini bertujuan untuk mengasah bakat para pelajar, memotivasi pelajar untuk berprestasi di bidang Bahasa Inggris, juga sebagai wadah untuk mempraktekan semua teori yang telah di dapat selama belajar di dalam kelas. Lomba-lomba tersebut diantaranya lomba pidato Bahasa Inggris, lomba debat Bahasa Inggris, lomba drama Bahasa Inggris dan masih banyak bentuk lomba lainnya. Dengan perlombaan ini, semua pelajar pun akan terdorong untuk menunjukkan kebolehan mereka dan  membuat mereka belajar terbiasa untuk tampil di depan umum sehingga lebih percaya diri, tidak nervous, tidak takut salah, tidak ragu-ragu dan tampil lebih natural.

Saat menjadi MC di Farewell Party salah satu course di Pare

Belajar di Kampung Inggris-Pare ternyata tidak hanya terbatas di dalam kelas. Sebagian besar tempat kursus dan asrama di Pare rutin melakukan kegiatan belajar di luar kelas. Mulai dari belajar di tempat terbuka seperti kelas yang berada di bawah pohon, di teras, maupun halaman tempat kursus. Kelas jalan-jalan, yaitu kegiatan belajar mengajar  namun dilaksanakan di tempat-tempat umum seperti di pinggir sawah, di lapangan hijau, bahkan di tempat makan atau restaurant. Ada juga kegiatan rutin Jalan pagi, biasanya dilakukan  setiap hari Jumat saat subuh, dimana para pelajar akan dipasangkan berdua dengan lawan jenis dan membuat barisan panjang untuk jalan pagi, namun tidak sekedar jalan pagi, karena setiap sesi jalan pagi para pelajar akan diberi suatu kasus atau topik untuk didiskusikan dengan pasangannya tersebut sembari mereka berjalan mengelilingi desa yang tentunya dengan menggunakan Bahasa Inggris. Puncaknya adalah study tour yang selalu ditunggu-tunggu oleh para pelajar, dimana para pelajar dan pengajar mengunjungi tempat-tempat wisata internasional yang berada di Indonesia seperti Bali, Gunung Bromo, BNS, WBL, dan lain sebagainya. Tujuan study tour di sini sebagai acara hunting native speaker agar para pelajar dapat mempraktekan semua ilmu yang sudah mereka dapat langung dengan orang bule asli. Wah karena itu, jelas metode belajar di Pare sangat berbeda. Metode pengajaran Pare yang berbeda seperti itulah yang telah membuat banyak pelajar yang awalnya membenci Bahasa Inggris kemudian berubah justru menjadi sangat menyukai Bahasa Inggris.

Suasana Kelas Out door di Pare

Study tour ke Bali salah satu kegiatan belajar di Pare


Banyak cara untuk dapat mahir berbahasa Inggris layaknya native speaker, namun tanpa rasa suka dan senang dalam mempelajarinya, tujuan tersebut tampaknya menjadi sulit dan agak berlebihan. Mungkin sudah saatnya Pemerintah mengubah sistem pendidikan Bahasa Inggris di sekolah-sekolah khususnya Sekolah Dasar sebagai tempat pertama para murid mengenali Bahasa Inggris yang semula lebih bertujuan untuk “mencerdaskan” menjadi “mengenalkan, membiasakan, dan menumbuhkan rasa suka” berbahasa Inggris pada diri murid. Sehingga kedepannya tidak ada lagi pelajar-pelajar yang “takut” dan “benci” untuk berbicara Bahasa Inggris. Dan Metode belajar Pare di sini bisa dijadikan salah satu solusi perubahan. Meskipun begitu, ada pepatah yang mengatakan bahwa “A Great Speaker speaks with right pronunciation and right grammar.” Grammar disini merupakan syarat perlu tetapi belum mencukupi (necessary, but not sufficient condition) untuk dapat berbicara dengan tepat. Diperlukan pronunciation yang tepat untuk menjadi speaker yang baik. Dan berlatih pronunciation terbaik dilakukan dengan cara terbiasa mendengarkan juga terbiasa berbicara. Namun apabila Anda termasuk ke dalam orang-orang yang sudah terlanjur tumbuh besar dalam “kebencian” terhadap Bahasa Inggris dan ingin segera memperbaikinya, atau Anda tipikal orang yang suka belajar sambil berlibur, atau mungkin Anda adalah orang  yang merasa frustasi karena tidak ada lagi tempat kursus Bahasa Inggris yang cocok dan tidak juga merasakan perubahan sedikitpun setelah mengikuti banyak kursus seperti saya dahulu, jika itu memang benar Anda, sudah saatnya Anda mencoba hal yang berbeda! Dan saya memiliki jawaban yang tepat untuk Anda, yaitu “Kampung Inggris-Pare.”

Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.