image1 image2 image3 image4 image5

HI I'M ADE PERMATA SURYA|NUTRITIONIST AND MBA HOLDER|BIG DREAMER WITH MORE ACTION|LET'S GIVE IMPACT AND CHANGE THE WORLD!

Ibuku di Kehidupan yang Lain











Ibuku di Kehidupan yang Lain

"Never mind Mom, cause I believe everything happen for a reason"

(Diadaptasi dari kisah nyata, dan 'Surat untuk Ibuku di Kehidupan yang Lain' 
dalam kisah ini menjadi juara 2 dalam lomba Shegames - olimpiade deklamasi puisi 2012 SALAM UI bertemakan IBU)


‘Benarkah ini tempatnya?’ tanyaku dalam hati. Aku mencoba mengangkat koper dan tas jinjingku seraya menuruni delman yang sedang kunaiki. Aku pun bergegas berjalan menuju satu rumah. “Assalamualaikum, permisi..” sahutku kepada penghuni rumah itu.
“Walaikum salam…” jawab seorang perempuan paruh baya sembari membuka pintu. Ia  melepaskan sebuah senyuman kepadaku, “Ini Nak Adel yang dari UI Depok, ya? Silakan masuk, Nak..” lanjutnya. Aku berjalan menuju depan ruang tamu tempat ibu itu berdiri, “Ibu ini Bu Ambar Setyaningrum kah? Pemilik rumah pembuatan batik khas Purworejo di sini?” ucapku sambil terus tersenyum. Akhirnya, aku bisa sampai di Purworejo pikirku kelelahan.
“Benar Nak, Ibu ini Bu Ambar,” jawabnya pelan seraya memperhatikan diriku dari ujung kaki hingga ujung kepala, entah apa yang dipikirkannya. “Ayo masuk, Ibu perlihatkan proses pembuatan batiknya sekilas dahulu, jadi kamu sudah bisa mendapat gambaran sebelum kamu melakukan penelitian esok hari.” Aku pun mengangguk antusias, dan mengikuti langkah kaki Bu Ambar memasuki ruang demi ruang.
Bahagia sekali rasanya berada di tengah-tengah suasana yang kental dengan budaya ini. Apalagi jika kuingat batik baru saja dinobatkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda yang dihasilkan Indonesia di tahun 2009 lalu. Wah, mungkin saat ini mukaku menunjukkan keantusiasan yang sangat tinggi dalam memerhatikan para perajin batik di sini. Namun, ketika aku mengalihkan pandanganku dari batik-batik tersebut, aku menangkap banyak wajah yang ternyata diam-diam memperhatikan penampilan fisikku. Namun kejadian seperti ini bukan hal yang asing bagiku. Secara fisik, aku memang tidak terlihat seperti warga negara Indonesia, aku memang memiliki darah campuran. Ayahku memang orang Jerman asli dan ibuku adalah perempuan Sunda campuran Arab. Aku lebih tampak seperti orang Jerman dibandingkan orang sunda maupun Arab, rambutku berwarna coklat pirang, hidungku sangat mancung seperti ayah, tinggiku pun 170 cm. Namun aku mewariskan bola mata yang indah seperti mata almarhum ibuku, mataku cukup bulat dan berwarna coklat muda. Mungkin ini yang membuat orang-orang disekelilingku berpikir mengapa ada orang bule yang masih tertarik dengan kebudayaan Indonesia.
Hmm, itu bukan masalah menurutku, jika ada wanita bernama Ann Dunham, warga negara asli Amerika Serikat yang mau datang jauh-jauh ke Indonesia dan menelusuri pedalaman Jawa demi melakukan penelitian mengenai batik dan mendapatkan koleksi 100 helai kain batik dari berbagai daerah jawa langsung dari tangan perajinnya, mengapa aku yang berwarga Negara asli Indonesia tidak bisa seperti Ibunda Presiden Obama tersebut? Sungguh Ibu Ann telah menginspirasi hidupku. Jika orang luar bisa mencintai budaya Indonesia, lantas mengapa aku tak bisa? Ya, hal ini juga yang menjadi salah satu alasanku untuk mengangkat batik sebagai topik dari tugas akhir skripsiku dan memaksaku untuk mencari alamat tempat pembuatan batik langsung dari daerah aslinya.
Sambil berpikir, aku terus berjalan untuk melihat-lihat, sedangkan Bu Ambar baru saja meninggalkanku sebentar untuk mengangkat telepon. Aku melihat di ujung rumah terdapat pintu yang terbuka, aku keluar dan melihat banyak ember besar berisi rendaman batik dengan pewarna, lalu batik yang sedang dididihkan di atas kompor sederhana yang terbuat dari kayu bakar dan batik yang sedang dikeringkan di halaman belakang rumahnya. Ketika aku sedang memperhatikan itu semua, tiba-tiba aku menangkap sumber suara di telingaku. Suara anak-anak kecil tebakku, mereka sedang belajar dan tertawa satu sama lain. Aku penasaran, aku berjalan berbelok ke arah kiri mengikuti suara. Dan sekarang aku mendapatkan jawabannya. “Kak Aji?!” sahutku kaget melihat seorang laki-laki sedang mengajar anak-anak kecil di sebuah saung di halaman belakang. Ya… itu Kak Aji, dosen yang dulu pernah mengajarkanku Mata kuliah wajib bernama MPK Seni di tahun pertama saat aku masih menjadi mahasiswa baru. Saat itu kami sebagai mahasiswa harus memilih satu dari sekian banyak pilihan seni, dan aku memilih mata kuliah batik.
“Kamu Muller, kan?” Kak Aji bangun dari posisi duduknya, “adik-adik, sek ya mas tinggal dhisik sadilit, mas lagi ana tamu, adik-adik kerjakna dhisik soal-soal sing dak wenehi!” ucapnya pada adik-adik itu kemudian ia berjalan ke arahku. “Kakak masih saja memanggilku dengan nama Muller. Panggil saja Adel biar lebih merakyat hehe..” pintaku.
“Iya, kakak masih ingat. Nama panjang kamu Adelicia Muller, kan? Yasudah.. Kakak panggil kamu Adel saja,” ucap Kak Aji sambil tersenyum. “Kok kamu bisa sampai di rumah kakak, Del?” lanjutnya sambil memperhatikan penampilanku, “lho, ini kan batik yang dulu kamu buat di kelas kakak, kan? Hahaha..!” Wah, rasanya Kak Aji puas sekali menertawakanku. Aku memang sedang menggunakan batik pertama buatanku saat mengikuti kelasnya dia dulu. Dan memang batik yang kubuat ini sangat berantakan motifnya, maklum baru pertama kali mencoba. “Huuu kakak, meskipun jelek tapi ini asli buatanku sendiri, jadi aku bangga memakainya hehe. Oh ya, ini rumah kakak? Berarti kakak anaknya Bu Ambar?”
“Adeeelllll?” Tiba-tiba teriak Ibu mencariku dan menemukanku dalam sekejap. “Lho, kamu sudah di sini Del. Maaf, ya.. tadi Ibu tinggal telepon sebentar,” ucapnya padaku. Tiba-tiba ibu baru sadar ada Kak Aji di sampingku, “Mas, nyuwun tulung anteraken mbak Adel datheng kontrakanipun Bu Tresno njih, supados mbak Adel saghed istirahat kaliyan nginep wonten merika,” pinta Bu Ambar pada Kak Aji untuk mengantarku ke kontrakan Bu Tresno. Tidak lama aku dan Kak Aji pun pergi menuju rumah Bu Tresno. Tanpa sadar saat di jalan, pikiranku melayang mengingat kejadian empat tahun yang lalu saat aku dan laki-laki yang saat ini berusia 28 tahun itu pertama bertemu.
“Waahhh, dosennya ganteng!” sahut Farah, teman yang duduk di sampingku. Aku yang dari tadi sedang sibuk mengeluarkan peralatan membatik mendadak berhenti dan mencoba memastikan perkataan temanku. Aku menatap lelaki itu. “Biasa saja,” jawabku sontak. Aku akui dosen itu tampan seperti vokalis grup band Ungu, badannya atletis, dan masih terlihat muda. Aku pikir lelaki seperti dia lebih cocok menjadi model dibandingkan menjadi dosen, terlebih dosen seni batik. Namun seperti apapun fisik seorang lelaki, aku takkan berkata bahwa ia tampan sebelum ada aura dari dalam dirinya yang membuatku terpesona, karena itu ku katakana ia biasa saja.
Sepanjang kelas membatik, temanku — Farah — yang selalu duduk di sampingku itu selalu memanggil Kak Aji saat ia sedang mengontrol pembuatan batik para murid. Ada saja akal Farah untuk mendekati dosen itu. Misalnya, berpura-pura meminta diajarkan cara memegang canting. Namun Kak Aji meresponnya dengan professional. Pernah satu kali aku bertanya padanya, “Kak, kenapa kakak memilih menjadi dosen batik? Kakak kan laki-laki?” Namun ia hanya merespon senyum sesaat dan kemudian meninggalkan kursiku. Aneh pikirku, mengapa giliran aku yang bertanya responnya menyebalkan sekali. Dari situ aku tak pernah menghiraukan keberadaan dirinya lagi. Hingga akhir pengumpulan karya, ternyata batikku yang paling jelek di antara yang lain. Dan aku satu-satunya orang yang mendapat nilai C. Sejak saat itu Kak Aji selalu mengingat namaku Muller, karena di baju batikku yang paling jelek itu kuberi nama Muller, nama marga Jermanku. Sebentar! Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku dan tersontak kaget mengingat batikku yang bernilai C ini, Hah, jangan-jangan semua orang memperhatikanku tadi bukan karena ke-bule-an ku, tapi karena bajuku ini. ‘Hahahahaha,’ aku tertawa geli dalam hati. “Adel! Kamu kenapa senyum-senyum sendiri begitu?” Kak Aji menegurku, “dasar aneh, nih kita sudah sampai di rumah Bu Tresno.” Wah, bahkan aku tak sadar dari tadi kami sudah sampai karena aku terus melamun hahaha.
Setelah mengenalkanku dengan Bu Tresno, Kak Aji meninggalkanku agar aku bisa merapikan semua barang bawaanku dan beristirahat. Namun, sebelumnya kami  bertukar nomor handphone. Malam harinya Kak Aji mengirim SMS, ia mengajakku makan malam bersama. Karena aku belum tahu dimana tempat untuk membeli makan, tanpa pikir panjang aku terima ajakannya. Sesampainya di tempat makan, kami berbincang-bincang banyak hal sambil menunggu makanan datang. Kami banyak bercerita tentang hidup kami. Lucunya kami berbicara menggunakan bahasa daerah kami sendiri yaitu Jawa dan Sunda, untungnya kami sama-sama mengerti bahasa lawan bicara kami, ya sekalipun kami tak bisa menjawab dengan bahasa yang sama dan menjawabnya dengan bahasa daerah kami, tapi ini sangat berkesan. Sungguh, malam yang sangat singkat untuk kulewati bersamanya. Dari malam ini aku lebih banyak mengetahui sosok Kak Aji. Entah mengapa malam ini kurasa ia tampan sekali setelah aku mendengar kisah-kisah hidupnya yang begitu menginspirasi???
Esok paginya aku datang ke rumah Bu Ambar untuk belajar membuat motif batik khas Purworejo. Banyak motif khas Purworejo seperti Melati Secontong, Lung Kenongo, Nam Kepang, Laras Driyo, Pisang Bali, Limaran, Lung Semongko, dan masih banyak corak dengan kekhasan masing-masing. Namun yang saat ini sedang kutekuni adalah motif Lung Semongko yang menjadi corak khas buatan Desa Banyuurip tempatku singgah sekarang. Berjam-jam aku mencoba membuat motif tersebut pada kain mori dengan arahan Ibu Ambar. Sesekali aku melihat Kak Aji memoto kami berdua di saat Bu Ambar sedang mengarahkan tanganku dengan tangannya dalam membuat motif. Setiap kulihat Kak Aji, sepertinya ia sedang memerhatikanku dari kejauhan, dan ia selalu memberikan senyum manisnya sambil mengucapkan ‘Halten Geist!’ padaku, itu adalah Bahasa Jerman yang berarti semangat.
Sudah berhari-hari sejak kedatanganku ke Purworejo, aku dan Kak Aji semakin dekat. Semakin hari mengenalnya, semakin aku mengaguminya. Beberapa kali aku terbangun di subuh hari mendengar adzan dan kulihat Kak Aji tak pernah telat untuk salat subuh di masjid yang ada tepat di seberang kontrakanku. Selain itu, HP ku tak pernah sepi dari SMS-SMSnya untuk mengingatkanku salat ketika adzan berkumandang. Aku juga masih ingat di suatu malam aku ingin tidur namun tiba-tiba ia menelponku, saat itu aku meminta ia mengaji ayat suci untuk pengantar tidurku. Kak Aji pun menyanggupi, ia melantunkan ayat suci Al-quran di telingaku dengan sangat merdu sambil mengajarkan artinya padaku. Jujur, aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku. Awalnya aku tersenyum mendengarnya, tapi seketika aku menangis dan tak sadar tetesan air mataku jatuh berkali-kali meskipun tanpa bersuara. Subhanallah, baru kali ini aku merasa ada seseorang yang mau membimbingku, terutama dalam hal agama. Ayahku, Fraundice Muller, adalah seorang muallaf dan ibuku pun telah lama tiada. Kak Aji, untuk pertama kalinya aku bisa mengatakan bahwa aku mencintai kakak.. Aku mencintai kakak karena Allah, Tuhanku.. Telah lama aku mencari pria yang mau membimbingku untuk lebih dekat dengan Tuhanku, yang selama ini belum aku kenali seutuhnya. ucapku terus dalam hati sambil mengusap air mataku.
Malam ini adalah malam ke-8 aku di Purworejo. Malam ini Kak Aji mengajakku mengunjungi alun-alun kota Purworejo untuk menikmati suasana malam Purworejo, cukup ramai di sini. Sambil duduk kami pun menikmati sekoteng yang dijual di alun-alun.
“Del, Mas arepe maringi barang?” ucap Kak Aji ingin mengatakan sesuatu padaku.
Aku menghentikan suapanku. “Aya naon, Aa?” godaku dalam bahasa sunda.
“Del,” sahutnya seraya menatapku, “sudah lama kakak menyukaimu. Kakak menyukaimu sejak pertama kaka lihat kamu di kelas batik. Empat tahun yang lalu. Dan setelah sekian lama, perasaan kakak masih sama dan gak pernah berubah.”
Seketika aku tersedak, “Wie könnte? Wie kannst du mich lieben?”  sahutku sambil terbatuk, aku mempertanyakan bagaimana bisa Kak Aji menyukaiku sedari dulu.
“Mungkin kamu tidak sadar, tapi kakak selalu memerhatikan kamu dari jauh.” ucapnya, “kakak suka sama kamu karena mata kamu.. Pertama kali melihat mata kamu, kakak merasa ada yang berbeda. Kakak juga masih ingat, dulu kamu kan yang bertanya kenapa kakak mau mengajar batik padahal kakak laki-laki, iya kan? Maaf, ya… saat itu kakak grogi jadi tidak bisa menjawab pertanyaanmu..” jelasnya padaku.
“Kak.. Jujur Adel pun suka sama kakak. Tapi, tak pernah sedikitpun terlintas dalam benak Adel menjadi pacar kakak.” Kak Aji terdiam mendengar jawabanku, “Yang menjadi impian Adel, Adel ingin sekali memiliki suami seperti kakak.. Adel ingin terus dibimbing Kak…, Adel ingin memiliki suami yang bisa menjadikan Adel istri dunia dan akhiratnya..” Kak Aji tersenyum mendengar jawabanku, ternyata pikiran dan kemauan kami sama.
Di hari ke-10 tepat hari minggu, Kak Aji mengajakku main ke rumahnya. Jika sebelumnya aku datang sebagai mahasiswa yang akan melakukan penelitian mengenai batik, namun kali ini aku datang sebagai perempuan yang berharap diterima di keluarga Kak Aji dan diterima di hati Bu Ambar, orang yang kuimpikan kelak dapat kupanggil Ibu. Bukan karena usianya, bukan karena kodratnya yang sudah memiliki anak, namun karena ikatan dari pertalian pernikahan. Ya, aku berharap ia kelak menjadi Ibu mertuaku, dan bisa kuanggap sebagai ibuku sendiri seperti ibuku yang telah lama meninggal. Jika hari-hari biasanya kami membicarakan masalah batik, untuk pertemuan kali ini kami lebih banyak membahas keluarga kami masing-masing. Dan sepertinya Bu Ambar menunjukkan penerimaan yang baik. Ia sangat baik padaku, ia selalu memberikan senyuman dan canda di tengah-tengah pembicaraan kami bertiga. Semoga esok akan sebaik hari ini, tandasku.
Setelah bangun pagi, aku mencoba merapikan keperluan-keperluanku untuk turun lapangan besok hari. Jika sebelumnya penelitianku lebih pada batik itu sendiri. Mulai besok aku akan lebih banyak berada di lapangan untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar, aku akan mewawancarai sasaran respondenku, yaitu para remaja di Desa Golok, Kecamatan Banyuurip, Purworejo 4 hari berturut-turut hingga tanggal kepulanganku. Karena aku akan lebih jarang bertemu dengan Kak Aji, kuputuskan pagi ini untuk menemuinya. Namun aku tak juga menemukannya dimanapun, handphone-nya pun tak aktif. Tiba-tiba aku teringat akan sawah yang tak jauh dari sini. Aku coba mencarinya ke sana dan tebakanku benar. Kulihat Kak Aji duduk menyamping di sebuah saung, sedang diam dan pandangannya kosong. Sepertinya ia tak menyadari kedatanganku. Aku melangkah ke sampingnya dan tanganku menyentuh lembut bahunya, sehingga ia tersadar dari lamunan. “Kak.. Kakak kenapa?” Kak Aji menengok dan merubah posisi duduknya menghadapku. Ia tersenyum dan secepat kilat merubah raut wajahnya, seperti menutupi sesuatu.
Mas ora opo-opo, Adel…” jawabnya melucu. “Kakak bohong!” teriakku. “Tolong kakak jujur sama Adel dan jangan buat Adel khawatir kak…” lanjutku tegas.
Kak Aji diam dan menunduk. Ia mencoba menjelaskan sesuatu dengan pelan, “Del.. ada dua hal yang harus kamu tahu..” Mukaku semakin terlihat cemas ketakutan, “apa Ka?”
“Adel.. Hal pertama yang harus kamu tahu, kakak suka sama kamu sejak kakak lihat kamu pertama kali. Kakak memang tak pernah mencarimu karena kakak pikir kita tidak mungkin bertemu lagi, tapi siapa yang sangka setelah empat tahun kita bisa bertemu di sini. Dan jujur semakin mengenal kamu, kakak jadi sayang dan semakin sayang sama kamu.. sejak kakak lihat kamu pertama kali, kakak sudah cerita sama Ibu kakak, Ibu kakak sudah tahu dari dulu bahwa kakak menyukai murid kaka sendiri ketika kakak mengajar, tapi..”
“Tapi apa, Kak?” potongku tak sabar, “please to the point kak, sebenarnya ada apa?!”
“Tapi, terkadang semua yang kita inginkan tak berjalan sesuai rencana dan keinginan kita..” Aku semakin tak sabar mendengar “Iya. Tapi apa, kak?” tanyaku sangat serius.
“Del.. Ibu belum bisa merestui hubungan kita. Ibu belum bisa menerima kamu…”
Aku menarik napas sedalam mungkin, “Tapi kenapa, Kak? Apa yang kurang dari aku? Kakak jelasin ya, aku janji aku pasti berubah demi Ibu kakak.”
Kak Aji menggenggam kedua tanganku dan menatapku dalam, “Del.. tidak ada yang kurang pada dirimu. Ibu menyukaimu, ia bilang kamu anak yang baik dan sopan. Hanya saja..” Kak Aji menarik napas, “hanya saja kamu bukan orang Jawa seperti kami, Del..”
Aku diam terpaku mendengarnya. Seakan Tuhan seketika mencabut nyawaku. Aku tidak bisa berkata apapun. Aku bahkan tidak bisa menarik napas. Mataku memerah dan aku hanya bisa meneteskan air mata tanpa bersuara. Bagaimana mungkin?! Aku tidak diterima hanya karena sesuatu yang tak mungkin aku bisa ubah. Aku ditolak hanya karena aku Sunda terlebih aku blesteran Jerman, bukan orang Jawa??? “It’s not fair!” teriakku sambil melepaskan genggamannya. Aku sakit mendengarnya. Baru kali ini aku mendapat diskriminasi dari orang yang paling aku sayang layaknya ibuku sendiri. “Terus kakak hanya diam? Kakak gak memperjuangkan aku?! Hanya sebesar ini sayang kakak sama aku??!!” ucapku marah sambil terus menangis dan memukul-mukul dada Kak Aji. Rasa kesal, kecewa, sedih, tidak terima, semuanya berkumpul menjadi satu.
Tiba-tiba Kak Aji menangkap tanganku. Ia menggenggamnya keras. Lalu, ia menatapku sangat tajam seperti ia pun kesal atas semua ini. “Del, kamu bilang kakak tidak memperjuangkan kamu?! Semalam untuk pertama kalinya dalam hidup kakak, kakak berdebat dengan Ibu kakak sendiri.. kakak memohon sampai kakak sendiri pun menangis di hadapan Ibu kakak. Tapi semua itu percuma, Del.. Ibu kakak tetap pada pendiriannya.” Aku menjadi lemah mendengar ucapannya itu. Aku menyenderkan kepalaku tepat di dadanya dan aku terus menangis. “Kak, mengapa Ibu kakak tidak mau menerima perempuan selain Jawa? Memang apa salahnya orang Sunda, Kak?” tanyaku sambil terus menangis.
“Tidak ada yang salah, Del. Hanya saja, Ibu ingin mempertahankan budayanya. Ibu masih hidup di lingkungan Jawa yang kental, ada rasa ingin mempertahankan garis keturunan. Ibu juga takut terjadi bentrok budaya dalam hubungan rumah tangga. Namun Kakak yakin ini hanyalah masalah waktu Adel.. Kita pasti bisa meyakinkan ibu dan suatu saat kamu pasti diterima menjadi pendamping kakak dan juga sebagai anaknya,” jelasnya lembut. “Karena kakak yakin, semua itu pasti akan indah pada waktunya,” lanjut ka Aji sambil mengangkat kepalaku lalu mengusap air mataku. Ia tersenyum menguatkanku, sungguh menatap wajahnya membuat aku sangat takut kehilangannya.
Kak Aji pun mengantarkanku pulang ke kontrakan. Aku menjatuhkan diriku pada tempat tidur, aku terus memikirkan hal ini. ‘Apa salahnya menjadi orang sunda, Jerman dan Arab? Aku bangga dan akan tetap bangga, sekalipun banyak orang yang memandang kami sebelah mata, tapi aku yakin Tuhan menciptakan perbedaan agar kita bisa belajar memahami satu sama lain!’ berontakku dalam hati. ‘Aku adalah bukti nyata bersatunya perbedaan. Ayahku berasal dari Jerman dan ibuku sendiri bukti nyata bersatunya Arab dan Indonesia. Jangankan perbedaan suku di Indonesia, kami justru dapat membuktikan perbedaan negara bukanlah penghalang untuk memahami satu sama lain, dan perbedaan bukanlah penghalang cinta diantara kami. Lantas apa aku tidak memiliki hak untuk mencintai orang yang berbeda dariku?’ Aku terus bertanya dalam hati, ‘TAPI MENGAPA AKU TUHAN? MENGAPA AKU HARUS MENGALAMI INI? Aku belum pernah mencintai laki-laki sebelumnya. Bahkan aku mencintainya karena Engkau! Aku belajar mengaji, salat dan semua perintah-Mu darinya. Aku merasa menjadi hamba-Mu yang lebih baik, namun mengapa Kau mempersulit jalanku?!’ aku menangis dan terus mempertanyakan ini, seakan aku menyalahkan ini semua pada Tuhanku, dan aku tidak terima atas semua ini. Aku tidak bisa membiarkan diriku terus begini, aku bangun dan berjalan, aku mengambil air wudhu dan kuputuskan untuk salat dan meminta petunjuk-Nya dalam doa istikharahku.
Berbeda dari hari kemarin, hari ini aku jauh lebih tenang. Sedikit demi sedikit aku mencoba menerima ini. Aku pikir selama ini aku adalah orang yang mengagung-agungkan kebudayaan dan suku di Indonesia, tapi mengapa sekarang aku merasa budayalah yang menusukku dari belakang? Huh, memikirkan ini semua hanya menguras energiku. Tak terasa aku sudah ada di depan rumah orang-orang yang akan kuwawancarai, untuk beberapa jam aku bisa bersikap professional dan melupakan masalahku. Aku teringat bahwa respondenku ini adalah orang Jawa tulen, setelah mewawancarai mereka mengenai pandangan mereka terhadap batik, aku pun melakukan penelitian tambahan mengenai pandangan orang tua jawa terhadap pemilihan jodoh anaknya. Setelah 3 hari kukumpulkan datanya, lebih dari 80% remaja mengatakan bahwa orang tua mereka meminta mereka untuk memilih pasangan hidup yang sama-sama berasal dari Jawa. Setelah melihat hasil ini, aku baru sadar sekarang, ini memang masalah tradisi. Bukan masalah seorang Bu Ambar yang tidak mau menerimaku. Ya inilah Indonesia, pikirku. Menikah bukan hanya urusan menyatukan dua hati namun lebih tepatnya menyatukan dua keluarga besar dan menyatukan dua adat istiadat yang berbeda.
Ini adalah hari terakhirku di Purworejo. Hingga detik ini aku belum bertemu lagi dengan Kak Aji maupun Bu Ambar, aku masih berharap akan keajaiban sekalipun aku tahu itu mustahil. Aku duduk di kursi meja belajarku, aku melihat ada kertas dan pulpen yang menganggur, aku mencoba mencurahkan isi hatiku pada kertas tersebut. Tak lama aku melihat jam dinding di atas meja belajarku. Sudah sore nampaknya, sepertinya aku harus mencari Bu Ambar dan Kak Aji untuk berpamitan bahwa besok aku akan pulang ke Depok. Aku merobek kertas tersebut dari bukuku dan kulipat menjadi lipatan kertas kecil dan terus kugenggam di tanganku.
Aku berjalan menuju rumah Bu Ambar, aku terus termenung memikirkan bagaimana mimikku nanti saat bertemu mereka. Apakah aku bisa bersikap seperti biasa? Aku terus termenung hingga selang satu rumah dari rumah Bu Ambar. Tiba-tiba kulihat Bu Ambar sedang berjalan cepat keluar rumah sambil mengangkat telepon. Jantungku berdetak kencang melihat dirinya. Namun, wajahku tiba-tiba menjadi panik ketika aku sadar Bu Ambar akan menyebrang jalan, dan tak melihat dari arah belakang terdapat mobil yang sedang melaju cepat. Ia masih fokus pada handphone-nya ketika aku berteriak “Ibu awas!”. Aku masih panik karena melihat mobil tersebut makin menuju ke arahnya. Tanpa pikir panjang aku berlari ke arahnya dan berusaha mendorongnya. DUARRRRR!! Tabrakan pun tak terelakkan. Pandanganku kabur, aku bisa merasakan tulang kakiku patah karena benturan sangat keras terjadi. Tak lama aku melihat Kak Aji berlari dari arah masjid, sepertinya ia melihat semua kejadian tadi. Dan dalam hitungan detik aku mulai tak sadarkan diri, pandanganku gelap.
Aku mencoba membuka mataku perlahan. Aku bisa melihat Bu Ambar dan Kak Aji di sampingku. Mata Bu Ambar terlihat sembap seperti baru saja menangis hebat, sedangkan wajah Kak Aji terlihat mencemaskan keadaanku. Mungkin dalam sementara waktu aku akan menjadi pincang dan harus berjalan menggunakan tongkat, tapi aku tak pernah menyesali apa yang sudah terjadi. Aku mengambil handphone-ku di dalam kantong celana dan meminta supirku menjemputku saat ini juga ke Purworejo menggunakan pesawat dan menggunakan taksi ke rumah sakit. Aku tak bisa lebih lama lagi di sini, melihat Kak Aji hanya akan membuatku semakin terluka.
Bu Ambar tak henti-hentinya meminta maaf dan mengucapkan terima kasih kepadaku atas pertolongan yang kulakukan. Aku meyakinkan padanya bahwa pertolongan yang kuberikan ini tulus karena aku menganggapnya seperti ibuku sendiri. Kak Aji seperti memberikan sinyal pada Ibunya untuk meninggalkan kami berdua dan tak lama ibu meninggalkan kami. “Del, kakak sangat berterima kasih sama kamu karena sudah mau menolong ibu dan mengorbankan dirimu sendiri,” ucapnya sambil membelai rambut pirangku. “Del, saat kakak siap… kakak akan segera datang melamar kamu, karena Ibu sekarang sudah merestui kita..” Lanjutnya memberitahu kabar gembira.
Entah apa yang terjadi pada diriku, aku sedikitpun tak bahagia mendengarnya. Justru aku mempertanyakan mengapa tiba-tiba Ibu merestui kami. Ini aneh pikirku, aku tahu Ibu Ambar, ia wanita yang lembut dan rendah hati tapi sangat kuat pendiriannya terutama dalam hal adat istiadat dan budaya. Sekilas aku teringat semua doa-doa yang kupanjatkan selama tiga hari agar Tuhan mau meluluhkan hatinya, aku selalu menyempatkan bangun dini hari untuk salat tahajud terus berdoa sambil menangis tiap malam demi mendengar ucapan ini keluar dari mulut Kak Aji, tapi mengapa sekarang aku hanya diam?
“Kak.. aku sudah merelakan kakak. Aku hanya berharap kebahagiaan untuk kakak, mengenal kakak dan belajar banyak hal itu sudah menjadi anugerah untukku. Aku ingin diterima oleh Ibu karena memang aku layak untuk diterima, bukan karena Ibu mengasihani keadaanku atau karena merasa berhutang budi padaku. Aku menolong Ibu karena aku tahu rasanya kehilangan seorang Ibu dan aku tak mau itu terjadi pada kakak..” Aku berusaha meyakinkan Kak Aji. “Kak.. aku sudah mengerti semuanya, pertahankanlah tradisi leluhur kakak jika ini lah cara kakak mempertahankan budaya kakak. Seperti aku terus mewarisi budayaku sendiri..” ucapku sambil tersenyum.
Kami melewati waktu berjam-jam tak terasa lamanya, sesekali Kak Aji menyuapiku dan kami saling tersenyum. Sekilas aku seperti melihat Bu Ambar mengintip kami dari luar pintu. Sudah pukul lima sore, kupikir seharusnya supirku sudah sampai di rumah sakit ini. Tidak lama supirku benar-benar datang. Aku dibantu supirku bersiap-siap dan ia membantuku berdiri menggunakan tongkat. Aku pun pamit pada Kak Aji dan Bu Ambar. Mereka mengantarkanku hingga aku menaiki taksi. Setelah ini sudah kuputuskan untuk melupakannya, aku akan mengganti semua nomor handphone-ku. Aku yakin inilah jalan terbaik untuk Kak Aji. Mungkin ini terdengar gila, setelah aku berusaha sekeras mungkin mendapatkan restu Ibunya, dan aku kini mendapatkannya, tapi aku justru melepasnya. Entah mengapa aku yakin ini bukanlah “waktu yang indah” seperti yang dikatakan Kak Aji. Aku masih merasa bahwa Bu Ambar hanya merasa berhutang budi padaku. Mungkin di suatu hari nanti aku akan benar-benar menemukan waktu yang indah itu, harapku.
Mobil taksi pun dinyalakan, aku membuka kaca mobil dan  melambaikan tangan pada mereka sambil tersenyum. Setelah mobil berjalan, aku menutup kacanya kembali dan aku hanya bisa menangis. “Kak, sampai saat ini aku tak bisa melepaskan kakak karena aku ini seorang wanita. Aku pun ingin bersama selamanya dengan laki-laki yang kucintai. Tapi di sisi lain, aku pun harus melepaskan kakak, karena aku juga seorang wanita, yang suatu saat nanti akan menjadi seorang ibu. Dan aku pun tak mau jika anakku lebih memilih meninggalkanku demi orang lain,” ucapku sambil menangis. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, aku mencoba merogoh kantongku untuk menemukannya. Dimana surat itu? Surat yang kutulis sebelum aku mengalami kecelakaan? Aku mencoba terus mengingat. Ah, mungkin sudah hilang atau jatuh saat aku tertabrak. Ya, mungkin sebaiknya hilang agar aku benar-benar bisa mengikhlaskan Kak Aji dan semoga saja Bu Ambar tak pernah melihat surat itu.
***
Tak terasa sudah setahun dari kelulusanku. Dan hari ini aku memutuskan melihat pameran lomba fotografi bertemakan “Cinta di Tengah Budaya” di kampusku dulu. Ketika aku asik melihat beberapa foto pameran, langkahku terhenti. Mataku terfokus pada satu foto. Foto apa ini? Mengapa ada aku di sana? Tangan kananku berusaha merabanya dan pikiranku berputar ke memori yang telah lama kulupakan itu. Ya, aku ingat foto ini diambil ketika aku melakukan penelitian ke Purworejo. Hari pertama ketika aku mempelajari motif batik. Di gambar tersebut terdapat seorang Ibu yang membantu mengarahkan tanganku menggambar motif di sehelai kain mori. Jantungku berdetak kencang, aku langsung mencari judul dan keterangan dari foto tersebut.

Judul Foto       : Surat untuk Ibuku di Kehidupan yang lain
Karya              : Aji Nugraha, S. Sos., MM.
Keterangan      : Bu, aku dan anakmu memang terlahir berbeda. Tapi kami memiliki satu arah tujuan yang sama, dan kami percaya Bu, sekuat apapun benteng yang memisahkan kami, kami akan melewatinya. Mungkin saat ini kami diam Bu, tapi ini bukan karena kami menyerah. namun dalam diam kami mempersiapkan perlawanan yang kuat, sehingga ketika kami bertemu kembali, Ibu mau merestui kami. Bu, izinkan aku menyayangimu layaknya ibuku sendiri.. Tidakkah kau lihat, Bu? Aku menyangimu seperti aku menyayangi putramu.. tidakkah kau mengasihani kami, Bu? Dan tidakkah kau luluh melihat air mata kami? Apa salah saya, Bu? Mengapa ibu tak mau menerima saya? Bukan keinginan saya terlahir dengan perbedaan. Bu, apakah saya tidak memiliki sedikitpun harapan? Haruskah kami sujud di kakimu agar kau akhirnya merestui kami, Bu? Tapi tak apa Bu, aku percaya ada kehidupan lain dimana aku bisa memanggilmu Ibu…ku…
For Muller, After all this time.. my feeling will be same and never change..


Ade Permata Surya memenangkan juara 2 Olimpiade Deklamasi Puisi berjudul "Ibuku di Kehidupan yang Lain" yang merupakan isi surat dalam cerpen ini.



Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.