image1 image2 image3 image4 image5

HI I'M ADE PERMATA SURYA|NUTRITIONIST AND MBA HOLDER|BIG DREAMER WITH MORE ACTION|LET'S GIVE IMPACT AND CHANGE THE WORLD!












KAMPUNG HALAMANMU 

SELALU HADIRKAN SENYUMMU ABADI

(menjuarai cerpen terbaik Nurani Art in Box, FKM UI, tema kampung halaman)


“Kriiinggg kringggg,” jam beker pun akhirnya berbunyi, saat ini jam telah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Mike pun terbangun dan berdiri dari tempat tidurnya, matanya yang masih sayup seketika terpaku dan terus melihat tajam  ke arah kalender yang ada tepat di  hadapannya “Akhirnya hari ini datang,” ucap Mike seraya mengambil napas yang dalam dan dengan wajah yang terlihat sedih, namun terasa bahwa hatinya mencoba untuk tetap tegar.
Hari ini tepat tanggal 7 Juni. Setelah bersiap-siap dan tak lupa membawa gitar kesayangannya,  Mike pun berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta. Di sana ia segera memasuki pesawat tujuan Yogyakarta. Selama perjalanan, Mike hanya melamun dan matanya terlihat kosong. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
Tak terasa pesawat yang ditumpanginya telah mendarat, seakan tak sabar, Mike pun cepat-cepat mencari taksi yang bisa ia tumpangi. “Pak, tolong antarkan saya ke Pemakaman Imogiri,” ucap Mike masih dengan mata yang kosong.
Sesampainya di pemakaman tersebut, Mike langsung berlari dan matanya terus mencari sebuah nama. Nama yang selalu ada di pikiran dan hatinya selama setahun belakangan ini, Cahaya Eternita. “Cahaya, aku datang,” ucapnya lirih sambil berlutut di hadapan makam gadis itu. “Kau tahu, Kotamu  tak pernah berubah, masih sama sejak setahun lalu kedatanganku ke sini, namun…” tak sadar Mike meneteskan air matanya dan mulai menangis.
“Mike? Ini kamu, Nak?” tiba-tiba terdengar suara dari belakang tubuh Mike.
Mike menoleh, “Ibu?” Mike terkejut dan cepat-cepat menghapus air matanya. “Sejak kapan Ibu ada di sini?”
“Baru saja Ibu datang,” ucap wanita paruh baya tersebut. “Hhhmm, Ibu rindu sekali dengan anak Ibu, karena itu Ibu datang kemari. Lagipula hari ini tepat setahun kematian putri Ibu.” Tiba-tiba perempuan tersebut menundukkan wajahnya dan terus membelai batu nisan yang ada di hadapannya. “Kau tahu Mike, Cahaya adalah anak yang periang, penuh semangat dan tak pernah mengeluh semasa hidupnya.”
Mike pun menoleh, menatap perempuan  tersebut dengan sebersit senyuman, “Saya setuju sekali Ibu…” Perkataan sang ibunda membuat pikiran Mike telah penuh dengan masa lalunya bersama Cahaya, seakan-akan Mike kembali ke masa lalunya tersebut dan berusaha menceritakan kembali hari-hari yang telah ia lalui bersama Cahaya. Tak sadar Mike terus bercerita sembari mengingat moment-moment ketika ia pertama kali bertemu Cahaya hingga momentdimana ia harus kehilangan Cahaya untuk selamanya. Ibu cahaya pun terlihat antusias sekali dan menjadi pendengar yang baik untuk Mike.

ᴥᴥᴥᴥᴥᴥᴥᴥᴥᴥ

“Kamu juga dihukum?” tanya Mike kepada gadis yang ada di hadapannya.
“Iya, kepangan rambutku kurang satu, harusnya ada seratus. Aku pikir senior di kampus ini gak akan ada yang hitungin satu per satu,” jawab gadis itu “Kamu sendiri kenapa dihukum  begini?”
“Hahaha, aku dihukum karena berani ngelawan komandan disiplin. Aku gak terima dipanggil monyet, yaudah kupanggil balik ia kera, alhasil aku juga dihukum kaya kamu hahahahaha,” jawab Mike sambil tertawa terpingkal-pingkal. “Oh iya, kita belum berkenalan, nama kamu siapa? Aku Mike.”
“Aku Cahaya, Cahaya Eternita,” jawab gadis tersebut. “Aneh sekali kampus di Jakarta ini, bagaimana mau menghasilkan generasi penerus yang berkualitas kalau masa orientasi kampusnya tidak mendidik seperti ini, aku sedikit menyesal berjuang mati-matian demi mendapat beasiswa di kampus ini. Tahu gitu aku kuliah di kampung halamanku saja.”
What? Kamu gak salah ngomong seperti itu? This is the best university in Jakarta!Semua orang dari Indonesia bersaing untuk masuk sini. Memangnya kampungmu dimana?” sambung Mike gerang.
“Yogyakarta,” jawab Cahaya sembari tersenyum.
“Ah kupikir dimana, ternyata cuman Yogya…” sahut Mike kecewa.
“Eh, enak saja! Yogya itu Kota istimewa, lho! Memang kampungmu sendiri dimana?”
Sorry, aku bukan orang kampung kaya kamu. Aku ini orang kota, jadi ga punya kampung Hahahaha,” jawab Mike sedikit bercanda. “Aku orang Jakarta asli, aku sangat bersyukur ga punya kampung, jadi kalau liburan aku sama keluarga pasti jalan - jalannya ke luar negeri.”
“Wah kasian sekali hidupmu, Mike! Kapan-kapan kamu mesti ikut ke kampungku.”
“Untuk apa? Hampir semua Negara terkenal di dunia ini sudah pernah kukunjungi. Amerika, Inggris, Perancis, Belanda, Kanada, Jerman dan masih banyak lagi. Pergi ke kota - kota di Indonesia tidak menarik perhatianku, apalagi Yogyakarta. For me, it’s enough to live and stay in Jakarta. Semua sudah ada di Jakarta. karena itu apa untungnya buatku mengetahui kota-kota kecil di Indonesia yang kehidupannya masih sangat primitif, toh aku sudah tinggal di sini, satu-satunya Ibu Kota di Indonesia, JA-KAR-TA!”
 Cahaya berfikir betapa sombongnya laki - laki ini, “Dengar baik-baik Mike, Meski hanya ada satu bulan yang sinarnya paling terang di saat malam, tapi Yogya dan kota-kota lainnya tetaplah bintang yang walaupun sinarnya redup dan tak sebesar bulan, namun keberadaannya selalu memberikan keindahan pada malam,” ucap Cahaya kesal sambil mengibaratkan Jakarta sebagai bulan dan Yogya sebagai bintang. “Karena jika kau mendekati bintang-bintang tersebut, kau akan sadar bahwa ukuran bintang jauh berkali lipat lebih besar dibanding bulan, dan kau akan tahu bahwa hanya bintanglah sumber cahaya sejati dan bulan  hanya memantulkan sinarnya.  Namun, kau belum menyadari hal itu, karena jarakmu yang terlalu jauh. Kau hanya melihat dari sisimu saja di bumi!!!” lanjut Cahaya.
Seketika Mike terdiam mendengar perkataan Cahaya. Sejenak, ia merenung mendengar perkataan Cahaya tersebut. Namun, pada akhirnya ia berpikir betapa aneh dan kampungannya gadis yang baru ia temui itu.
Waktu pun terus berjalan sejak pertemuan pertama yang mereka alami. Semakin lama mereka pun saling mengenal satu sama lain, Mike memang berasal dari keluarga terpandang dan hidup di lingkungan  yang serba mewah sedangkan Cahaya hanya berasal dari keluarga menengah ke bawah dan hidup di lingkungan yang serba sederhana. Mike hobby sekali bermain gitar, setiap mereka berdua sedang berkumpul, Cahaya sering sekali request lagu kesukaannya “Yogyakarta” karya Katon Bagaskara untuk meredam kerinduan dirinya terhadap kampung halaman dan keluarganya, namun Mike tidak pernah mau memainkan karena Mike agak malas terhadap sifat Cahaya yang selalu mengagung - agungkan kampungnya tersebut, padahal di mata Mike Yogya masih sangat primitif dan kampungan.
Sudah dua setengah tahun sejak pertama kali mereka memasuki kehidupan kampus. Namun selama itu pula, Cahaya tak pernah sekalipun pulang ke rumahnya di Yogya, karena Cahaya dan keluarganya benar-benar tak memiliki biaya bahkan hanya untuk pulang kampung. Untuk biaya kehidupan sehari - harinya pun Cahaya hanya mendapatkannya dari hasil magang kerja sambil menjalankan  kuliahnya. Beberapa kali Mike menawarkan bantuan, tapi selalu ia tolak. Cahaya benar-benar wanita pekerja keras, penuh semangat dan tak pernah sedikitpun ia mengeluh dengan hidupnya yang seperti ini.
“Mike, entah kenapa akhir-akhir ini aku rindu sekali pada kampung halaman dan keluargaku. Sepertinya lusa aku ingin sekali pulang,” ucap Cahaya dengan suaranya yang lembut.
Mike melihat ada yang berbeda dari Cahaya, tidak seperti biasanya. “Lho, bukankah kamu pernah bilang kamu tidak mungkin pulang sebelum kamu lulus, karena kamu tidak memiliki ongkos? Lagi pula, lusa kita kan ada ujian cahaya, tumben-tumbenan kamu mau bolos seperti ini?”
“Hahaha.” cahaya tertawa, “memang  kamu pikir anak serajin aku tidak bisa nakal seperti kamu?”
“Ya bisa saja, tapi…”
“Yasudah, intinya lusa aku akan pulang ke Yogya, masalah ongkos, aku sudah mengumpulkannya dari jauh-jauh hari,” sahut Cahaya. “Tapi untuk kali ini, aku harap kamu bisa ikut menemaniku,” lanjutnya dengan menatap Mike tajam.
“Hmm..” Mike berpikir, “actually I don’t want accompany you, cause I am not interest about Yogya, but just think that I don’t want to get examination, so maybe it’s the best reason to cut the class,” ucap Mike yang sok kebulean.
 “Hahaha oke deh,” Cahaya tertawa riang.
Akhirnya lusa pun datang, mereka pun pergi ke Yogyakarta dengan kereta. Untuk pertama kalinya, Mike pergi menggunakan kereta. Ia, yang selalu menggunakan pesawat jika harus menempuh perjalanan jauh, alhasil Mike sesekali muntah. Namun bukannya membantu, Cahaya malah tertawa sangat puas lantaran melihat temannya kesulitan seperti itu. Memang di antara  mereka terjalin persahabatan yang aneh.
Sesampainya di Yogya, Cahaya menghirup dalam - dalam udara di sekitarnya. Betapa rindunya Cahaya dengan kampung halamannya itu, kota dimana ia dibesarkan, kota yang memiliki banyak kenangan bersama ayahnya yang telah lama meninggal sejak cahaya masih kecil, Kota yang merupakan surga kehidupannya di dunia. Kota dimana ia bisa memeluk erat ibunya dengan sepuas hati, “Ibuuuu!!!” seru Cahaya bahagia saat memasuki pintu rumahnya sambil memeluk ibunya erat-erat. “Ibu apa kabar? Sehat? Cahaya kangeennn banget sama ibu!”
“Cahaya?” Ibunya terkejut dengan kedatangan Cahaya. “Iya, ibu juga Kangen sekali sama kamu, Nak. Tapi kenapa gak ngabarin ibu dulu sebelumnya kalau mau pulang?”
“Gak apa-apa ibu, soalnya Cahaya udah kangen banget sama Ibu dan Yogya…” jawab Cahaya girang. “Oh iya, ibu kenalin ini sahabat Cahaya, namanya Mike. Dia yang nemenin dan jagain Cahaya selama perjalanan ke sini. Dalam beberapa hari gak apa-apa kan kalau Mike tinggal di sini, Bu?”
“Iya, jelas boleh nak! Nanti Mike tidur di kamarmu saja, kamu tidur sama ibu,” ucap ibu. “Terima kasih ya Mike sudah mau jagain Cahaya, semoga kamu betah tidur di sini. Tapi, ya beginilah rumah kami, kecil dan seadanya.”
“Iya Ibu, gak masalah kok,” sahut Mike sambil tersenyum. Mike masih terus memperhatikan sekeliling rumah Cahaya. Meskipun bibirnya tersenyum, namun matanya tak bisa bohong bahwa ia terkejut dengan rumah Cahaya yang terbilang sangat sederhana itu. Ia masih membandingkan rumah Cahaya dengan rumahnya di Jakarta, rumahnya cahaya tidak lebih besar dari kamarnya sendiri. Oh my God! Dalam waktu 3 hari aku harus tinggal di rumah ini, kenapa tidak ku tolak saja tadi tawaran Cahaya untuk menginap di sini dan pergi menginap ke hotel! Huuft. Keluh  Mike dalam hati.
“Sini Mike, ikuti aku!” sahut Cahaya seraya menarik baju Mike. “Sementara di Yogya, kamu tidur di kamarku ini, ya!” lanjut Cahaya sambil menunjuk kamarnya.
Mike melotot terkejut, “Di kamar ini???” Mike masih tidak percaya. “Bagaimana mungkin aku tidur ngampar di tikar seperti ini? Lalu tidak ada AC pula di sini! Kamarmu juga kecil sekali, bagaimana aku bisa hidup di tempat seperti ini!”
“HAHAHA” Cahaya tertawa melihat tingkah sahabatnya itu, tidak sedikitpun tersinggung, malah semakin tertantang ingin menyiksa dan merubah perilaku Mike. “Kau coba saja dulu, suatu hari setelah kaupulang dari Yogya, aku yakin kau akan rindu dengan semua suasana ini.”
“Kita lihat saja nanti, tapi aku yakin tidak akan pernah!”
Akhirnya mau tidak mau Mike pun menginap di rumah Cahaya. Saat makan malam tiba mereka bertiga pun berkumpul di suatu ruangan untuk makan. “Makanan datang!” sahut Cahaya sambil membawa makanan.
 “Makanan apa itu? Bentuknya aneh!” sahut Mike.
“Ini namanya Gudeg Mike, makanan khas Yogya,” jawab ibu Cahaya. “Kamu coba deh, para turis luar negeri juga suka kok dengan gudeg Yogya.”
“Masa sih Ibu?” Mike heran. “Iya, boleh deh kucoba. Tapi, sendok dan garpunya mana, ya?”
“Di sini makannya pakai tangan Mike!” sahut Cahaya sambil menahan tawa.
“Hah?? Serius?!” akhirnya Mike belajar menggunakan tangannya untuk menyuap. Betapa terkejutnya Mike saat mencicipi gudeg yang ia pikir makanan aneh  ternyata sangat enak rasanya. Tanpa sadar ia menambah porsi gudegnya terus-menerus, terutama untuk lauk kreceknya. Cahaya hanya menahan senyum melihat tingkah sahabatnya itu. Cahaya berpikir, andai saja ia bisa mengulang kembali suasana ini di kehidupan yang akan datang.
Selesai makan malam, Cahaya mengajak Mike berkeliling Yogya dengan menggunakan sepeda ontel kuno peninggalan bapaknya. Cahaya dibonceng dan Mike yang mengendarai.
“Mike, lihat itu!” sahut Cahaya saat dibonceng Mike. “Itu Tugu Yogya! Waaaahhh rindu sekali aku melihat tugu ini! Kita berhenti dulu ya untuk foto!”
“Hah! Itu tugu Yogya yang sering disebut sama orang-orang! Jauh berbeda dari bayanganku! Bagusan juga menara Eifel Paris!” jawab Mike. “Kita cari tempat lain saja, ya! Gak usah berhenti di sini!”
Tapi kali ini wajah Cahaya terlihat serius. Ia menurunkan kakinya sehingga sepeda mengalami gesekan keras dan berhenti. Cahaya pun turun sambil menarik baju Mike untuk menepi. “Kau tahu! Tugu Yogya ini memendam makna filosofis tentang semangat perlawanan atas penjajahan dan sekarang menjadi landmark Yogya yang paling terkenal. Begitu istimewanya tugu ini hingga ada tradisi memeluk atau mencium tugu ketika para mahasiswa Yogya lulus kuliah,” jelas Cahaya dengan serius. Tiba - tiba wajah Cahaya menjadi sedih, “Dulu waktu aku kecil, sebelum ayahku  meninggal di pagi hari, aku terakhir kali menghabiskan malam dengannya untuk berfoto di tugu ini. Lagi pula belum tentu kita akan bertemu dan bisa berfoto bersama lagi di Tugu Yogya jika bukan malam ini.”
Mike terdiam mendengar perkataan sahabatnya itu. Sekarang ia mengerti mengapa Cahaya menyukai sekali Tugu Yogya yang dimatanya tidak lebih bagus daripada gapura selamat datang. Namun melihat Cahaya tersenyum bahagia ketika melihat Tugu Yogya, membuat Mike ikut bahagia bahkan melebihi rasa bahagianya ketika ia bisa melihat menara Eifel untuk pertama kalinya.
Setelah menghabiskan waktu beberapa lama untuk bercanda ria dan berfoto di depan tugu Yogya, mereka pun melanjutkan perjalanannya kembali. Kali ini Cahaya mengarahkan Mike menuju jembatan kali Code. Di sana terdapat banyak sekali angkringan nasi kucing atau yang biasa disebut sego kucing. Dari kejauhan, Cahaya sudah bisa merasakan dan melihat suasana keakraban dan kebersamaan yang ada di tempat itu. Banyak mahasiswa yang berkumpul bersama dan tertawa riang, beberapa di antara mereka ada yang membawa gitar dan kartu. Sungguh malam yang begitu indah, banyak bintang yang berlimpahan menambah manisnya suasana Yogya malam itu.
Akhirnya, mereka berhenti dan mencari tikar yang masih kosong, Mike duduk dan Cahaya menghampiri angkiran untuk memesan dan mengambil makanan. Mike yang duduk sendirian melihat sekeliling. Meski ia masih asing untuk duduk mengampar dan melihat pemandangan kali, namun kini ia mulai menemukan suasana berbeda yang tidak pernah ia temukan di negara luar manapun seperti yang selama ini ia bangga-banggakan.
Cahaya menghampiri Mike sambil membawa makanan seraya duduk di samping Mike, “Mike, nih cobain!”
“Hah! Makanan apa ini? Kok porsi nya kecil sekali!!!”
“Ini namanya nasi kucing.”
“Yang benar saja, masa makanan kucing kamu kasih ke aku!” sahut Mike.
“Hahaha, itu kan namanya aja nasi kucing, isinya tetap makanan manusia!” jawab Cahaya sambil tertawa halus. “Nih, buka mulutnya! Aaa…!” Cahaya menyodorkan makanan.
Mike membuka mulutnya dan berusaha meraih makanan, tapi tiba - tiba Cahaya memalingkan makanannya dan memakannya sendiri. “Hahaha.”
“Wah berani main - main sama aku  ya?!”  sahut Mike sambil bersiap - siap menjitak kepala Cahaya. Tapi tiba - tiba Cahaya meringis kesakitan dan memegang perutnya. Mike langsung menghentikan tangannya dan berusaha memastikan Cahaya tidak apa-napa. “Kamu gak apa-apa, Cah?”
Cahaya berusaha menutupi rasa sakitnya dan menunjukkan wajah yang segar kembali. “Haha, gak apa-apa. Cuma masuk angin biasa,” ucapnya sambil tersenyum. Manis.
Mike masih tidak percaya dengan jawaban Cahaya sampai tiba - tiba sesuatu yang paling ditakuti dalam hidup Mike datang di hadapannya.
“Mbak dan Mas yang guantenggg… eike ganggu sebencar yach?” sahut seorang banci sambil mengedip ke arah Mike dan ia lanjutkan dengan nyanyi sambil bawa kicrikan. “Kemana kemana kemana ku harus mencari kemana? Kekasih tercinta tak tahu rimbanya. Lama tak datang ke rumah….” Mike pun reflek mau berdiri dan bersiap kabur, tapi Cahaya yang tahu kalau temannya itu paling takut sama banci langsung meraih dan menggenggam tangan Mike erat - erat hingga Mike tak bisa kemana-mana. Malah Cahaya meminta banci tersebut untuk menggoda Mike, Mike pun dicolek - colek oleh banci tersebut, alhasil Mike pun teriak kencang dan reflek lari setelah berusaha sekuat mungkin melepaskan tangan Cahaya.  Banci yang kegirangan tersebut malah ikut mengejar Mike. Cahaya pun tertawa puas malam itu meski di satu sisi ia masih merasakan kesakitan.
Betapa berkesannya malam itu bagi Mike setelah sempat kejar - kejaran dengan banci tersebut, Mike dan Cahaya pun bermain gitar dan bernyayi bersama sambil mencicipi nasi kucing, gorengan dan  kopi yang tersedia. Mulai malam itu, Mike merasa senang karena berkesempatan mengunjungi Yogya bersama sahabat yang paling ia sayang.
Keesokan harinya, mereka mulai bersiap - siap berkeliling Yogya lagi. Cahaya masih ingin memperkenalkan kampung halaman yang selama ini ia bangga - banggakan kepada sahabatnya itu. Kali ini, mereka mengunjungi Pantai Parang Tritis. Memasuki kawasan pantai, banyak terdapat gundukan pasir, suasana yang hijau dan air lautnya yang masih biru menambah rasa rindu dan bangganya Cahaya terhadap kampung halamannya itu.
“Hmm, ini yang disebut Parangtritis? Jauh berbeda dengan Pantai Lanikai Hawai yang pernah kukunjungi!” sahut Mike kecewa.
“Heh, hati-hati kamu ngomong begitu! Nanti Nyi Roro Kidul marah, lho!” ucap Cahaya. “Wah apalagi kamu sedang pakai baju hijau sekarang.” Cahaya berusaha menakut - nakuti Mike.
“Lho, memang pantai ini ada hubungannya sama Nyi Roro Kidul?!”
“Jelas ada! Banyak orang Jawa percaya bahwa Pantai Parangtritis adalah gerbang kerajaan gaib Ratu Kidul yang menguasai laut selatan. Hampir setiap malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon, para pengunjung maupun nelayan setempat melakukan upacara ritual di pantai tersebut. Acara ritual diwarnai pelarungan sesajen dan kembang warna - warni ke laut. Puncak acara ritual biasanya terjadi pada malam 1 Suro, dan dua-tiga hari setelah hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Intinya, nelayan meminta keselamatan dan kemurahan rezeki dari penguasa bumi dan langit. Tapi benar atau gak nya mitos tersebut si Wallahu Alam.”
Mendengar penjelasan Cahaya, Mike menjadi sedikit takut meskipun ia berusaha tidak mempercayai mitos tersebut. Mike pun berusaha membuat suasana menjadi lebih hangat. Mereka mencoba jajanan wedang ronde dan beberapa jagung bakar yang banyak dijual di sekitar pantai.
Selesai mengunjungi Pantai Parangtritis, sore harinya mereka pun langsung menuju objek wisata terkenal lainnya di Yogya. Mereka berkunjung ke Malioboro. Sekilas, Mike merasa berada di tengah kerumunan pasar kaki lima, tidak sesuai dengan perkiraannya kembali. Tapi kali ini Mike tidak mengungkapkannya karena menurutnya Cahaya sudah lebih mengetahui apa yang dia pikirkan. Mereka pun berjalan dari ujung jalan hingga ke ujung jalan dimana banyak toko dan pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam cinderamata khas Yogya seperti batik, kaos yogya, tas batik, accessoris dan masih banyak lagi. Cahaya pun menemani Mike membeli beberapa oleh-oleh untuk keluarganya.
Malam harinya, Cahaya mengajak Mike untuk mengunjungi tempat favoritnya di Yogya, yaitu Alun-alun Kidul. Malam yang sangat indah, dapat terlihat banyak keluarga dan banyak anak muda yang berkumpul untuk menghabiskan malam di tempat itu. Suasana ramai, hangat dan penuh kebersamaan, canda dan tawa riang terlihat di banyak sudut. Terdapat banyak pedagang yang menyewakan becak dan sepeda lampu hias. Terdapat dua beringin besar tepat di depan pintu selatan keraton Yogyakarta. Selain itu banyak lampu-lampu yang membuat suasana malam itu terlihat begitu romantis.
Cahaya dan Mike memilih tikar di sekitar lapangan untuk tempat mereka duduk. Setelah menempati tempat, Mike pergi kembali untuk memesan wedang ronde yang terletak di seberang lapangan. Cahaya duduk sendiri. Betapa bahagianya ia bisa menghabiskan waktunya di kota yang paling berharga untuknya dan bersama orang yang berharga pula. Seandainya ia bisa mengulang saat - saat bahagia ini di kehidupan yang akan datang, harap kecilnya di dalam hati. Tiba - tiba cahaya merasa kesakitan kembali, sakit yang selalu ia tutupi bahkan dari ibu dan sahabatnya, Mike. Cahaya terus menahan sakit hingga Mike datang membawa dua wedang ronde ditangannya. Menyadari kedatangan Mike, Cahaya berusaha terlihat segar meski matanya tak bisa membohongi keadaannya.
“Ini aku bawakan wedang ronde. Malam ini sangat dingin, supaya bisa menghangatkan tubuhmu,” ucap Mike seraya menaruh wedang ronde di hadapan Cahaya.
Cahaya hanya diam, ia menahan sakit sambil menunduk.
“Cahaya?” tanya Mike sambil melihat wajah Cahaya. “Kau sakit, ya? Wajahmu sepertinya pucat…”
Merasa Mike menyadari keadaan dirinya, Cahaya langsung mengangkat wajahnya dan tertawa, “Hahaha, gak lah. masa seorang cahaya sakit!”
Mike pun teralihkan. “Haha. Iya, ya! Nanti kalau kamu sakit dan cahayanya redup, siapa yang jadi penerang hidupku?” goda Mike.
Cahaya tersenyum, “Dengar Mike, sekalipun suatu saat nanti aku sudah  tak ada, cahayaku akan selalu ada abadi dan akan selalu jadi penerang hidupmu,” ucap Cahaya lembut. “Namaku kan Cahaya Eternita, eternita itu nama permata Yunani yang berasal dari kata eternity, yang artinya keabadian.”
“Hahaha bisa aja bercandaanmu!”
Cahaya tersenyum bahagia. “Mike, mainin satu lagu dong buatku! Tuh mumpung ada pengamen yang mau ke sini, kita pinjem aja gitarnya hahaha.”
“Ah, pasti minta lagu ‘Yogyakarta’ kan?!” Mike mulai bete, “Gak ah, lagi pula aku gak hapal bahkan gak tau kunci gitarnya. Lagi pula apa enaknya sih itu lagu?! Aku mainin lagunya Linkin Park aja gimana?”
Cahaya kecewa, “Aku serius Mike, hanya untuk malam ini, please?”
“Tapi aku benar-benar gak tahu kuncinya. Gini deh, pulang malam ini aku cari kuncinya dan nanti kupelajari, ya?” ucap Mike seraya memanggil pengamen ke arahnya. “Mas, tolong mainin lagu Yogyakartanya Kla Project untuk sahabat saya ya!”
Akhirnya para pengamen tersebut pun menyanyikan lagu ‘Yogyakarta’, lagu kesukaan Cahaya. Cahaya cukup senang, namun ia masih berharap Mike yang menyanyikan sendiri untuknya.
“Eh, Itu pohon beringin? Kenapa pohonnya dipagarin?” tanya Mike aneh sambil menunjuk ke arah dua pohon beringin di seberangnya.
“Oh itu! Itu bukan pohon beringin biasa. Di alun - alun ini ada tradisi Masangin, yaitu melewati jalan antara dua beringin yang ada di tengah alun-alun dengan mata ditutup kain hitam. Konon, jika orang mampu melewatinya dan  tak serong atau menabrak maka ia akan mendapat berkah tak terhingga. Tapi, jangan mencoba untuk mengintip, sebab mitosnya kamu akan masuk ke dunia lain. Kamu akan mendapati alun - alun dalam keadaan sepi dan sulit untuk kembali ke alam nyata lagi,” jawab Cahaya.
“Wah, Yogya itu banyak sekali mitosnya ya?” ucap Mike sambil berpikir. “Tapi boleh tuh di coba! Kamu udah pernah coba?”
“Udah, Tapi selalu serong,” jawab Cahaya seraya menarik baju Mike. “kalau gitu ayo ke sana! Aku pingin tahu kamu bisa apa gak!”
Cahaya pun mencari penyewa kain hitam, dengan membayar Rp.3000,- kain tersebut sudah dapat digunakan. Setelah itu Cahaya bergegas memakaikannya di mata Mike karena sudah tak sabar ingin melihat Mike melewati beringin itu. “Oke, selesai!” ucap Cahaya selesai mengikat kainnya. “Gak boleh ngintip, ya! Aku lihat kamu dari sini saja! Kutunggu kamu di sini ya!”
“Oke! Siapa takut!” Mike pun mencoba berjalan melewati beringin tersebut. Mike berjalan beberapa meter mendekati jalan di antara dua pohon beringin tersebut, sesekali jalan Mike menyerong, namun anehnya ia bisa kembali ke arah yang benar lagi. Sekarang ia sudah satu meter menuju pohon beringin, sepertinya Mike dapat melewati beringin itu dengan cukup baik. Ia terus berjalan dan berjalan hingga ia merasa sudah menempuh jarak yang cukup jauh. “Sepertinya sudah cukup,” ucap Mike sambil melepas ikatan kainnya.Ia pun berbalik arah untuk melihat apa ia berhasil atau tidak.  Ajaib! Mike berhasil melewatinya! “WAAHHHH!!! Aku berhasil! Aku bisa melewati beringin itu! Pasti Cahaya malu melihatnya!” teriak Mike kegirangan sambil mencari dari kejauhan dimana posisi Cahaya.
“Mana Cahaya?” Mike masih belum bisa melihat dimana posisi Cahaya karena malam yang sudah gelap. Namun, tiba - tiba Mike terfokus pada suatu kerumunan orang - orang di seberang sana, jantungnya tiba - tiba berdegup kencang dan timbul kekhawatiran terhadap diri sahabatnya itu. Mike pun bergegas lari sambil terus menerus berteriak, “Cahaya! Cahaya! Cahaya!”
Mike diam terpaku dan melotot terkejut melihat sosok Cahaya di balik kerumunan itu, Cahaya pingsan pikirnya. Tanpa berpikir panjang Mike menggendong Cahaya sambil berusaha berjalan secepat mungkin, Mike berusaha mencari kendaraan apapun yang dapat mengangkut mereka berdua hingga di rumah sakit. Cahaya terlihat sangat pucat dan mengalami pendarahan di hidungnya. Cahaya langsung dilarikan ke UGD, Mike pun terlihat khawatir dan ketakutan. Mike menunggu di luar kamar dan berusaha menghubungi ibu Cahaya. Mike benar-benar takut sesuatu menimpa Cahaya.
Setelah lima belas menit Mike menunggu dengan cemas, Ibu Cahaya pun datang sambil menangis, “Mike, apa yang terjadi pada Cahaya?”
“Saya tidak tahu Ibu, tiba - tiba saja Cahaya jatuh dan tak sadarkan diri,” jawab Mike penuh rasa cemas.
“Ya Allah, sembuhkanlah anakku, jangan biarkan sesuatu yang buruk menimpanya.”  Ibu Cahaya berdoa penuh tangisan, hingga tiba-tiba dokter keluar dari pintu. Ibu Cahaya pun bergegas menghampiri, “Dok, bagaimana keadaan anak saya?”
Tanpa berkata, dokter hanya menunduk dan menggelengkan kepalanya dengan wajah penuh kesedihan. Ibu dan Mike pun berlari ke dalam. Mike pun terkejut melihat sahabatnya sudah terbaring kaku. Ibu Cahaya pun langsung memeluk dan terus - menerus berteriak mengucapkan nama Cahaya sambil menangis. Mike terus menggenggam tangan cahaya yang sudah dingin itu sambil terus meneteskan air mata.
ᴥᴥᴥᴥᴥᴥᴥᴥᴥᴥ

Selesai menceritakan semua kenangannya tepat di depan makam Cahaya, tiba-tiba Ibu Cahaya memperlihatkan sebuah kertas dan sebuah buku kepada Mike. “Sehari setelah kematian Cahaya, Ibu tak sengaja menemukan kedua benda ini di dalam tasnya.”
Mike mengambil kedua benda tersebut, “Kertas apa ini Bu?”
“Itu kertas hasil check up yang menyatakan bahwa Cahaya menderita penyakit Chronic lymphocytic leukemia. Tanggal di kertas itu menunjukkan kurang lebih satu setengah tahun sebelum hari kematiannya.” Tiba - tiba Ibu Cahaya meneteskan air mata, “Itu berati selama satu setengah tahun ia menjalani penyakitnya seorang diri, betapa teganya ibu tak pernah ada ketika ia mengalami kesakitan.”
Mike pun terkejut, ia baru mengetahui selama ini Cahaya menyimpan rahasia dari dirinya. Dan Mike baru menyadari selama ini menemukan banyak hal yang janggal dari diri Cahaya setelah ia berusaha mengingatnya. Sekarang Mike mengerti mengapa Cahaya saat itu benar - benar ingin pulang ke Yogya dan begitu ngototnya. Karena Cahaya tahu hidupnya tak lama lagi dan ia ingin menghabiskan waktu terakhirnya di Yogya, kampung halamannya.
Ibu masih tetap menangis, “Dan di dalam buku diary ini, dia menuliskan kalau dia sengaja tak pernah pulang, karena ia takut Ibu tahu penyakitnya. Ia tak mau lihat Ibu sedih dan harus mengeluarkan banyak dana untuk pengobatannya.”
Mike pun mencoba membaca kertas itu dan mencoba membuka buku tersebut.
“Mike, Ibu pulang duluan ya. Kamu gak apa-apa kan ibu tinggal sendiri di makam ini?” ucap Ibu seraya menghapus air mata nya.
“Iya Bu, gak masalah. Mike masih ingin lebih lama tinggal di sini,” jawab Mike sambil tersenyum. Mike pun melanjutkan membuka buku diary Cahaya. Tiba - tiba tangannya terhenti membuka lembaran dan matanya tertuju pada satu tulisan.

Tuhan, Aku senang karena aku  mengetahui aku akan bertemu dengan Ayah di surga nanti, Tapi apakah aku boleh meminta dua hal? Bolehkah aku meminta Engkau membuatkanku surga layaknya Yogyakarta, kampung halamanku? Dan Jika Kau mengizinkannya, Bisakah aku mendapatkan kehidupan kedua kalinya bersama Ayah, Ibu dan Mike untuk mengulang kembali kenangan kami bersama di Yogyakarta? Karena bagiku Yogyakarta adalah surga selama aku hidup di dunia. Dan bila Engkau tak mengizinkannya,
Aku yakin, selama di surga nanti, aku akan terus rindu pada kampung halamanku, Yogyakarta.

Mike pun mengusap air matanya yang terus berjatuhan. “Cahaya, meskipun aku tak bisa melihat senyummu lagi, namun kampung halamanmu selalu hadirkan senyummu abadi,” ucap Mike sambil berusaha tersenyum. “Sekarang aku akan menyanyikan lagu kesukaanmu. Setelah kau tak ada, aku berusaha mencari kunci gitarnya dan aku selalu berlatih tiap malam demi hari ini. Setelah ini, aku akan pergi ke semua tempat yang pernah kita kunjungi satu tahun lalu. Aku benar-benar merindukanmu Cahaya…”
Tak lama ia mengambil gitar yang ada di sampingnya dan mulai bernyanyi tepat di samping makam Cahaya Eternita, sahabatnya. Cahaya tersenyum-bahagia.

centergetaways.blogspot.com 

 ♪♫♪♫

Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja

Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu...

Reff:
Walau kini kau t'lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
♪♫♪♫


Terinspirasi dari lagu “Yogyakarta”(Kla Project)

Dan didedikasikan untuk Yogyakarta, Kota Terindah yang pernah kukunjungi




Share this:

CONVERSATION

2 comments:

  1. Inspiratif,,,
    Bisa gak ya aku niru kayak gini...hehehe

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah kalau inspiratif, makasih banyak :)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.