image1 image2 image3 image4 image5

HI I'M ADE PERMATA SURYA|NUTRITIONIST AND MBA HOLDER|BIG DREAMER WITH MORE ACTION|LET'S GIVE IMPACT AND CHANGE THE WORLD!

APAKAH SISWA YANG JARAK SEKOLAHNYA DEKAT DENGAN RESTORAN FAST FOOD AKAN MENINGKATKAN FREKUENSI KONSUMSI FAST FOOD DAN LEBIH BERESIKO OBESITAS?




APAKAH SISWA YANG JARAK SEKOLAHNYA DEKAT DENGAN RESTORAN FAST FOOD AKAN MENINGKATKAN FREKUENSI KONSUMSI FAST FOOD DAN LEBIH BERESIKO OBESITAS?

sumber foto: http://www.kesekolah.com/artikel-dan-berita/kesehatan/penyebab-obesitas-anak-dan-cara-mengatasinya.html

        Perubahan zaman yang menuntut manusia untuk hidup serba cepat, menjadikan masyarakat saat ini memilih mengonsumsi makanan yang instan dan cepat saji. Terlebih dengan masuknya budaya barat di banyak negara berkembang, membuat masyarakat lebih memilih untuk makan di restoran-restoran fast food (Park, 2004; Akbay, 2007). Hal ini menjadi pemicu tingginya frekuensi konsumsi fast food pada masyarakat. Padahal fast food merupakan makanan dengan kandungan tinggi kalori, tinggi garam, dan tinggi lemak serta tinggi lemak trans  sehingga berdampak pada tingginya kejadian overweight dan obesitas (Larson, et al., 2008; Currie et al, 2009; Powell, et al., 2009).
      Tingginya angka obesitas tersebut dapat meningkatkan resiko penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovaskular, hipertensi, hiperlipidemia, diabetes mellitus dan kanker. Obesitas sendiri telah menjadi penyebab kelima untuk kasus kematian di dunia. WHO menyebutkan bahwa pada tahun 2008 lebih dari 1,4 juta orang dewasa mengalami kelebihan berat badan, dan dari data tersebut sekitar 300 juta wanita dan 200 juta pria telah mengalami obesitas. Setiap tahun, setidaknya terdapat 2,8 juta orang dewasa yang meninggal akibat obesitas. (WHO, 2010; Ramachandran dan Snelatha, 2010; Hadi, 2005).
         Tidak hanya pada usia dewasa, anak-anak dan remaja pun banyak yang mengalami overweight dan obesitas. Padahal selain meningkatkan resiko penyakit degeneratif, obesitas pada anak-anak juga dapat meningkatkan resiko rendahnya percaya diri, tanda-tanda depresi, dan adanya stigmatisasi serta diskriminasi dari teman-teman mereka (Shin dan Shin, 2008; Zametkin et al., 2004). Pada tahun 2010, lebih dari 40 juta anak-anak di dunia yang berusia kurang dari lima tahun telah mengalami overweight (WHO, 2012). Data lain di Amerika menunjukkan satu dari tiga anak usia 2 - 19 tahun mengalami overweight, dan satu dari enam diantaranya mengalami obesitas. Pada remaja, 70% orang yang overweight akan tumbuh menjadi dewasa yang overweight pula, dan hal ini akan meningkat 80% jika satu atau kedua orang tuanya mengalami overweight atau obesitas. Prevalensi obesitas pada remaja usia 12 – 19 tahun pun meningkat menjadi 18% di tahun 2007 sampai 2008 jika dibandingkan pada tahun 1973 sampai 1974 dimana prevalensi obesitas hanya 6%. Jika dibandingkan dengan tahun 1973 sampai 1974, maka proporsi anak-anak usia 5 – 17 tahun yang mengalami obesitas mengalami kenaikan lima kali lipat di tahun 2008 sampai 2009 (American Heart Association, 2012).
Tingginya prevalensi obesitas dan penyakit degeneratif tersebut akan terus meningkat seiring dengan terus berkembangnya industri fast fooddi dunia. Fakta mengejutkan mengenai jumlah restaurant fast food, saat ini sudah terdapat lebih dari 700 restoran fast food di Turki (Akbay, 2007), 1500 restoran di Korea (Park, 2004), 17.000 restoran di Australia (Bis Shapnel, 2008), bahkan di Amerika pertumbuhan fast food meningkat tajam dari 70.000 restoran di tahun 1970 menjadi  186.000 restoran di tahun 2001 (Spurlock, 2005 dalam Bryant, 2008) dan peningkatan jumlah lokasi restoran fast food yang mulanya berada di 30.000 lokasi di Amerika pada tahun 1970 menjadi 233.000 lokasi di tahun 2004 dimana restoran fast food tersebut menghasilkan penjualan lebih dari $ 242,5 miliar tiap tahunnya (National Restaurant Association, 2005 dalam Driskell, 2006). Pertumbuhan fast food juga terlihat dari jumlah masyarakat yang dilayani McD sebagai salah satu merk fast food paling terkenal yaitu mencapai 46 juta orang di dunia pertahunnya.
Indonesia ternyata tidak mau tertinggal, dari data pasar size yang berasal dari beberapa sektor industri di Indonesia (SWA 01/XXIII/Februari 2008) Pertumbuhan industri makanan di Indonesia terus meningkat hingga mencapai 19,4% pada tahun 2008. Fakta tersebut menunjukkan bahwa terjadi pula peningkatan konsumen makanan fast food setiap tahunnya. Hasil survey ACNielsen online customer pada tahun 2007 mengungkapkan masyarakat Indonesia sebanyak 28% mengonsumsi fast food minimal satu minggu sekali dimana 33% diantaranya mengonsumsi saat jam makan siang. Karena hal tersebut, tak heran jika Indonesia menjadi negara ke 10 yang paling banyak mengonsumsi fast food (tanpa nama dan tahun dalam http://repository.upi.edu).     
            Permasalahan ini bertambah besar ketika restoran-restoran fast food tersebut mulai memasuki area sekolah dan menjadikan remaja yang tercatat sebagai “penyumbang permasalahan obesitas ketika tumbuh dewasa” ini sebagai “sasaran empuk” atau target utama pemasaran dari produk fast food (Powell, et al., 2007). Pada usia remaja, khususnya di bangku Sekolah Menengah Atas, merupakan masa dalam pencarian jati diri, dimana mereka akan mengikuti tren yang sedang berkembang untuk mencari kesenangan. Hal ini terbukti dari penelitian dimana dalam satu wilayah yang sama, secara signifikan siswa-siswi Sekolah Menengah Atas mendapat pengaruh yang lebih besar dari restoran-restoran terdekat untuk mengonsumsi fast food dalam frekuensi yang tinggi dibandingkan Sekolah Dasar (Kwate dan Loh, 2010). Selain itu data lain yang mendukung yaitu diperkirakan para remaja menghabiskan $159 juta hanya untuk membeli makanan fast food (Teenage Research Unlimited, 2005 dalam Powell, 2009) Alasan utama para remaja tersebut adalah rasa produk, kepuasaan, dan kenyamanan yang ditawarkan oleh restoran dan makanan fast food, sehingga mereka mau menghabiskan biaya yang cukup besar (Dunn, 2011).
Pada survei ditemukan beberapa siswa sekolah di Tangerang yang mengunjungi restoran fast food setelah jam pulang sekolah pada sekolah yang berdekatan dengan restoran fast food, selain itu ditemukan dari 26 siswa pada sekolah yang hanya berjarak 190 m dengan restoran fast food terdekat, sebanyak 96% menyukai fast food, 81% menyatakan pernah mengonsumsi fast fooddalam satu bulan terakhir, 81% termasuk mengonsumsi fast food dengan frekuensi sering, dimana nilai median frekuensi konsumsi fast food dalam satu minggu sebanyak 6 kali dengan jumlah terendah 1 kali hingga tertinggi 14 kali. 

A. Fast Food
          Menurut Yulia, 1995, istilah fast food diperkenalkan pertama kalinya di Amerika Serikat pada tahun 1950-an. Di zaman tersebut, banyak orang yang sibuk sehingga memesan makanan fast foodagar lebih praktis dan efisien.
        Fast food merupakan istilah yang memiliki dua arti berbeda, tetapi keduanya masih mengacu pada perhidangan dan konsumsi makan secara cepat. Definisi pertama adalah fast food  sebagai makanan yang dapat dihidangkan dan dikonsumsi dalam waktu seminimal mungkin, sedangkan untuk definisi kedua adalah fast food sebagai makanan yang dapat dikonsumsi secara cepat (Bertram, 1975 dalam Hayati, 2000).
          Di Indonesia, fast-food umumnya dibedakan menjadi dua, pertama: fast food modern yaitu fast food yang berasal dari luar negeri (asing) dan biasanya ditemui dalam bentuk restoran ataupun outlet dengan merk dagang tertentu, seperti McD, KFC, Pizza Hut, A&W, Hoka-hoka Bento, dan lain-lain. Sedangkan kedua, fast foodtradisional, yaitu kebanyakan disajikan oleh warung tegal, warung sunda, rumah makan padang dan lain-lain, jenis fast food tradisional seperti gado-gado, pecel, batagor, siomay, dan lain-lain (Saputra, 2000 dalam Suhartini, 2004)
         Sedangkan di negara barat seperti di USA, definisi dari restoran fast foodadalah restoran atau outlet dimana seseorang dapat memesan, membeli dan menerima makanan dalam waktu kurang lebih 10 menit, termasuk di dalamnya restoran fast food tradisional, dimana customer memesan dan menerima makanan di counter, maupun drive-inrestoran, yaitu customer memesan di counter dan makanan mereka akan diantarkan ke meja makan (Morse dan Driskell, 2009).
       Hasil dari survey kualitatif mengenai keyakinan tentang fast fooddan konsumninya pada mastarakat, menunjukkan orang-orang berpandangan bahwa fast food adalah makanan yang dibeli dari franchise-franchise besar dan makanan yang tidak sehat serta berbeda dari tipe makanan lainnya (Dunn, Mohr, dan Witter, 2008).
Tabel .1 Informasi Penjualan Fast-food di U.S. pada Tahun 2010
Nama Restoran
Rangking
Penjualan di U.S.
(juta $)
Jumlah lokasi di U.S.
Mc Donald’s
1
32.395,0
14.027
Burger King
3
8.600,0
7.253
Wendy’s
4
8.340,0
6.576
Taco Bell
6
6.900,0
5.634
KFC
9
4.700,0
5.055
Arby’s
14
3.010,0
3.649
Jack in the Box
15
2.934,8
2.206
Dairy Queen
16
2.660,0
4.514
Sumber: QSR Magazine, KFC, dalam Bauer et al, 2012

Data observasi terkini pun menemukan terdapat 147 makanan baru dengan porsi besar yang diperkenalkan restoran fast food dari tahun 2000 sampai 2009, diantaranya seperti hamburger, pizza, burritos, candy bars dan beverages. Sebagai contoh, Mc Donald’s memperkenalkan Angus Third Pounder (850 kkal); Wendy’s memperkenalkan burger ukuran besar, misalnya Triple Baconator burger (s.d 1300 kkal) dan Classic Triple with Everything (s.d. 1000 kkal); Burger King memperkenalkan Quad Stacker Sandwich(1000 kcal), King size 42-oz soda(410 kkal), Steakhouse Burger (950 kkal) dan Enormous Omelet Sandwich(730 kkal). Original Whopper Burger King mengandung 670 kkal energi, tetapi Triple Whopper yang terbaru mengandung 1230 kkal energi dengan keju. Subway memperkenalkan “Footlong” mengandung setidaknya 1200 kkal. Hardee’s mengenalkan Thickburgersdengan 2/3 pound daging, monster thickburgerini mengandung energi sampai 1420 kkal (Young, dan Nestle, 2012). Tabel 2.3 memperlihatkan komposisi dari beberapa fast food  dan tabel 2.4 memperlihatkan median energi yang terkandung dari menu-menu restoran fast food pada tahun 1997-1998 dan 2009-2010
Hasil penelitian menunjukkan perbandingan kandungan dari jenis-jenis makanan yang dijual di restoran fast food, menu untuk sarapan mengandung gula dan lemak jenuh tertinggi dibandingkan jenis menu lainnya (burger, chicken, pizza, salad, sandwich, dan side) yaitu 7,8g/ 100g untuk gula dan 5,5g / 100 g untuk lemak jenuh.  Produk ayam merupakan menu dengan total kandungan lemak tertinggi (13,2 g/ 100 g) dan sodium tertinggi (586 mg/ 100g), sedangkan sides mengandung energi tertinggi yaitu 1087 kj/ 100g) (Dunford, 2010).
Dampak gizi yang ditimbulkan dari makanan cepat saji tergantung pada pilihan makanan yang dibuat, frekuensi yang mereka dimakan, dan kualitas dari makanan lain yang dikonsumsi (Krummel dan Kris-Eherton, 1996).

B. Jarak sekolah terhadap restoran fast food
Beberapa hasil penelitian telah menunjukkan bahwa jarak sekolah terhadap restoran fast food yang dekat akan meningkatkan frekuensi konsumsi fast food yang juga berdampak pada peningkatan kejadian overweight pada siswa. (Forsyth, et al., 2012; Howard, Fitzpatrick dan Fulfost, 2011; Kwate dan Loh, 2010; Currie, et al., 2009).
          Hasil penelitian di California menunjukkan bahwa setidaknya terdapat 23,3% sekolah yang memiliki satu atau lebih restoran fast food yang berlokasi 400m dan 64,8% yang berjarak 800m dari sekolah. Ditemukan pula, bahwa restoran fast food paling banyak ditemukan pada lingkungan Sekolah Menengah Atas (SMA), dibandingkan pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) maupun Sekolah Dasar (SD) dan ditemukan pada lingkungan yang tinggi untuk area komersial yaitu area metropolitan (Simon, Kwan, Angelescu dan Fielding, 2008).
        Penelitian lainnya di Minneapolis, USA menemukan bahwa median dari jarak restoran fast food terhadap sekolah hanya 430m, dimana median jumlah restoran yang berada pada jarak 1600m sebanyak 4 restoran, dan 1 retoran pada jarak 800m. Restoran yang paling banyak ditemukan adalah restoran pizza. Penelitian ini juga menemukan bahwa setelah adanya kontrol terhadap level sosio-demografik individu, remaja laki-laki yang tinggal dekat dengan restoran fast food dalam jumlah banyak akan lebih sering mengonsumsi fast fooddibanding yang jauh (Forsyth, et al., 2012).
         Survey lainnya di New York City menemukan setidaknya terdapat 25% sekolah yang memiliki restoran fast food dalam jarak 400 m, dimana Sekolah Menengah Atas lebih banyak dikelilingi restoran fast food dibanding Sekolah Dasar (Kwate dan Loh, 2010).
             Dari hasil penelitian setidaknya terdapat 25% sekolah yang berdekatan dan dikelilingi restaurant fast food dalam jarak 400m (Forsyth, et al., 2012, Kwate dan Loh, 2010), hal tersebut akan dengan mudah menarik para siswa untuk berkunjung saat jam makan siang ataupun setelah pulang sekolah. Hasil penelitian lainnya menunjukkan bahwa jarak sekolah yang dekat dengan restoran fast food berhubungan dengan meningkatnya frekuensi konsumsi fast food pada siswa (Forsyth, 2012; Kwate dan Loh, 2010) serta berhubungan dengan buruknya kualitas makanan yang dikonsumsi sehingga meningkatkan kejadian obesitas. Data menunjukkan restoran fast food yang berjarak 0,5 mil  dari sekolah dapat meningkatkan obesitas pada siswa sebanyak 5,2 % (Curriie, 2009).



Daftar Pustaka:
World Health Organization. (2012, Mei). “Obesity and Overweight, Fact Sheet N°311.”
Ramachandran, A. dan Snehalatha, C. (2010). Rising Burden of Obesity in Asia, Hindawi Publishing Corporation, Journal of Obesity, Vol 2010, no. 868573, 1-8.
American Heart Association. (2012). “Overweight and Obesity, Statistical Fact Sheet 2012 Update.”
Hadi, H. (2005, 5 Februari). Beban Ganda Masalah Gizi dan Implikasinya
terhadap Kebijakan Pembangunan Kesehatan Nasional. Paper dipersentasikan pada pidato pengukuhan jabatan guru besar pada Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.
Eman. (2011). “Gawat 21,7 Persen Penduduk Indonesia Alami Obesitas” dalam http://gizi.depkes.go.id/artikel/gawat-217-persen-penduduk-indonesia-alami-obesitas.
Kemenkes RI Dirjen Bina Gizi dan KIA, (2011). “Hari Gizi Nasional 2011” dalam http://www.gizikia.depkes.go.id/archives/593/img_5933
Sulistiyowati, N., Senewe, F.P. dan Sondakh, J. (2012). Laporan Akhir Analisis Lanjut Data Riskesdas 2007: Status Kesehatan Remaja di Indonesia (Analisis Lanjut Data Riskesdas 2007). Puslitbang_Ekologi_dan_Status_Kesehatan. http://digilib.litbang.depkes.go.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jkpkbppk--ningsulist-3096
Shin, N.Y. dan Shin, M.S. (2008, April). Body Dissatisfaction, Self-Esteem, and Depression in Obese Korean Children. The Journal of Pediatrics. Vol. 152, Issue 4, 502–506.
Zametkin, A.J., Zoon, C.K., Klein, H.W., dan Munson, S. (2004, Februari). Psychiatric Aspects of Child and Adolescent Obesity: A Review of the Past 10 Years. Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry. Vol. 43, Issue 2, , 134–150
Currie, J., Vigna, S. D., Moretti, E., dan Pathania, V. (2009, November). The Effect of Fast Food Restaurant on Obesity and Weight Gain. Columbia University and NBER.
Forsyth, A., Wall, M., Larson, N., Story, M., dan Dianne Neumark-Sztainer. (2012). Do Adolescent Who Live or Go to School Near Fast Food Restaurant Eat More Frequently from Fast Food Restaurant? Journal of Health and Place. Vol.18, 1261 – 1269.
Kwate, N.O.A., dan Loh, J.M. (2010). Separate and Unequal: The Influence of Neighborhood and School Characteristic on Spatial Proximity Between Fast Food and Schools. Journal of Preventive Medicine. Vol. 51, 153 – 156.
Harini, R. (2005). Hubungan Konsumsi Fast Food dengan Terjadinya Obesitas pada Remaja Siswa-siswi SMA di Wilayah Kerja Puskesmas Karawaci Baru Kota Tangerang Provinsi Banten. FKM. Universitas Indonesia.
 Larson, N. I., Neumark-Sztainer, D. R., Story, M. T., Wall, M. W., Harnack, L. J., dan Eisenberg, M. E. (2008). Longitudinal Trends during The Transition to Young Adulthood and Correlates of Intake. Journal of Adolescent Health. Vol. 43, 79 - 86.
Powell, L. M. (2009). Fast Food Cost and Adolescent Body Mass Index: Evidence from Panel Data. Journal of Health Economics. Vol. 28, 963 - 970.
Yoon, K.H., Lee, J.H., Kim, J. W., et al. (2006). Epidemic Obesity and Type 2 Diabetes in Asia. The Lancet. Vol. 36, no. 9548, 1681 – 1688.
Chow, C., Magnolia, C., Raju, K., et al. (2007). Cardiovascular Disease and risk factors among 345 adults in rural India—the Andhra Pradesh Rural Health Initiative. International Journal of Cardiology. Vol. 116, 180–185.
Mehta, L.G., Kashyap, C. A., Das, L. C. S. (2009). Diabetes Mellitus in India: The Modern Scourge. MJAFI, Vol. 65, No. 1, 50 - 54.
Tian, H.,  Xie, H., Song, G., Zhang, H., Hu, G. (2009). Prevalence of overweight and obesity among 2.6 million rural Chinese adults. Preventive Medicine. Vol. 48, Issue 1, 59–63.
Liu, J. M., Ye, R., Li, S., Ren, A., et al. (2007). Prevalence of Overweight/Obesity in Chinese Children. Archives of Medical Research. Vol.38, Issue 8, 882–886.
Akbay, C. Tiryaki, G. Y., dan Gul, A. (2007). Consumer Characteristics Influencing Fast Food Consumption in Turkey. Food Control. Vol. 18, 904 – 913.
Driskell, J. A., Meckna, B. R., Scales, N. E. (2006). Differences Exist in The Eating Habits of University Men and Women at Fast-food Restaurant. Nutrition Research. Vol. 26, 524 – 530.
Bryant, R., Dundes, L. (2008). Fast Food Perceptions: A Pilot Stusy of College Student in Spain and The United States. Journal of Appetite. Vol. 51, 327–330.
BIS Shrapnel. (2008). Fast Food in Australia 2009 Research Proposal. Dalam http://www.bis.com.au/verve/_resource/fast_food_in_Australia_09_proposal.pdf.
Tanpa nama, tanpa tahun dalam http://repository.upi.edu/operator/upload/s_mbs_ 043389_chapter1.pdf. Diakses pada 29 Januari 2013, 16:33.
Dunn, K. I., Mohr, P. M., Wilson, C. J., dan Wittert, G. A. (2008). Beliefs about Fast Food in Australia: A Qualitative Analysis. Journal of Appetite. Vol. 51, 331 -334.
Park, C. (2004). Efficient or Enjoyable? Consumer Values of Eating-out and Fast Food Restaurant Consumption in Korea. International Journal of Hospitality Management. Vol. 23, 87 – 94.
Powell, L.M., Szczypka, G., Chaloupka, F.J. (2007). Adolescent Exposure to Food Advertising on Television. American Journal of Preventive Medicine. Vol.33 (4), S251 – S256.
Dunford, E., Webster, J., Brazi, F., Neal. (2010). Nutrient Content of Products Served by Leading Australian Fast Food Chains. International Journal of Appetite. Vol. 55, 484 – 489.
Wagner, K.H., Plasser, E., Proell, C., Kanzler, S. (2008). Comprehensive Studies on The Trans Fatty Acid Content of Austrian Foods: Convenience Products, Fast Food and Fats. Food Chemistry. Vol. 108, 1054 – 1060.
Bauer, K.W., Hearst, M.O., Earnest, A.A. et al. (2012). Energy Content of U.S. Fast Food Restaurant Offerings 14-Year Trends. American Journal of Prevention Medicine. Vol. 43 (5), 490 – 497.
Nielsen, S. J., dan Popkin, B. M. (2003). Patterns and Trends in Food Portion Sizes, 1977 – 1998. The Journal of The American Medical Association, 289 (4), 450 – 453.
Bauer, K. W., Larson, N. I., Nelson, M. C., et al. (2009) Fast Food Intake among Adolescents: Secular and Longitudinal Trends from 1999 to 2004. American Journal of Preventive Medicine. Vol. 48, 284 – 287.
Reeves, S., Wake, Y., Zick, A. (2011). Nutrition Labeling and Portion Size Information on Children’s Menus in Fast Food and Table Service Chain Restaurants in London, UK. Journal of Nutrition Education and Behaviour. Vol. 43 (6), 543 – 547.
DISBUDPAR BANTEN. (2011). Dalam http://bantenculturetourism.com/?p= 1296. Di akses pada 31 Januari 2012, 02:34.
Brown, J. E. (2005). Nutrition Throught the Life Cycle. Second edition. International Student Edition.
Morse, K. L., dan Driskell, J. A. (2009). Observed sex differences in fast-food consumption and nutrition self-assessments and beliefs of college students. Nutrition research. Vol 29, 173 - 179.
Dunford, E., Webster, J., Barzi., dan Neal, B. (2010). Nutrient content of products served by leading Australian fast food chains. Vol.55, 484 – 489.
 Young, L. R., dan Nestle, M. (2012). Reducing portion sizes to prevent obesity a call to action. American Journal of Preventive Medicine. 43 (5), 565 –568.
Almatsier, Sunita. (2009). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Supariasa, I. D. N., Bakri, B., dan Fajar, I. (2001). Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC
Sediaoetama, A. D. (2008). Ilmu Gizi I. Jakarta: Dian Rakyat
Gibson, R. (2005). Principles Nutritional Assessment. USA: Oxford University Press




Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.